SEMARANG, beritajateng.tv – Pameran bertajuk ‘Sapuan Kuas dan Kelaliman Bentuk’ di Semarang Contemporary Art Gallery sukses dibuka pada Sabtu, 19 Agustus 2023 kemarin. Acara seniman ini pun dihadiri 3 seniman kondang sekaligus yaitu Klowor Waldiyono, Pidi Baiq, dan Rudy Murdock. Sebanyak puluhan lukisan di acara tersebut itu berhasil merebut perhatian banyak pecinta seni di Kota Semarang.
Di balik meriahnya penyelenggaraan pameran, ternyata ada satu nama yang penting. Ia adalah tak lain dari Heru Hikayat yang bertugas sebagai kurator pameran.
Dalam menyatukan tiga seniman dengan latar belakang yang berbeda tentu tidak mudah. Apalagi, di antara ketiganya ada nama besar. Namun, bagi Heru, segala persiapan pameran ini merupakan suatu perjalanan yang menyenangkan.
“Bagian yang menyenangkan dari persiapan pameran itu saya bisa mengunjungi studio seniman dan mereka harus membuka pintunya kepada saya. Dari situ saya pun bisa berkeliling ke Jogja, Semarang, dan Bandung yang mana saya bisa berjumpa dengan Pidi,” ungkapnya kepada beritajateng.tv usai pembukaan, Sabtu 19 Agustus 2023.
BACA JUGA:16 Rumah Sakit se-Kota Semarang Adakan Public Health Fair 2023
Lebih lanjut, Heru mengatakan bahwa ia tak berperan sama sekali atas pemilihan seniman. Sebab, pemilihan seniman merupakan tugas pihak gallery. Barulah setelah mengetahui nama-nama seniman yang akan menggelar pameran, ia kemudian melakukan sebuah riset kecil-kecilan.
“Yang pertama saya lakukan adalah mencari informasi tentang proses yang sedang masing-masing seniman lakukan. Dari situ saya mencoba mencari apa yg membuat ketiga seniman ini saling berhubungan satu sama dengan lain. Kemudian saya dapat ide untuk judul pameran ‘Sapuan Kuas dan Kelaliman Bentuk’ karena yang paling menonjol dari ketiga orang ini adalah sapuan kuas,” lanjutnya.
Imajinasi Seniman yang Meliar, Artistik, dan Kadang Humor
Ketiga seniman tersebut, kata Heru, memiliki imajinasi yang liar, selera artistik, kadang rasa humor. Namun, tetap tangan ketiganya terus-menerus menyapukan kuas.
“Karena sapuan kuas adalah elemen yang paling penting yang ada dalam tradisi seni lukis,” ucap Heru.
Selain itu, Heru menyoroti pencarian bentuk oleh ketiganya. Menurutnya, 3 orang tersebut sama-sama mendeformasi bentuk. Misal pada lukisan mahkluk hidup.
“Makanya misal kita mengenali makhluk di lukisan mereka itu adalah khalayak dengan anatomi yang aneh dan bentuk jadi-jadian. Nah, itu yang membuat mereka cocok pameran bersama. Meski begitu, kita dapat tetap menikmatinya secara artistik walaupun kadang terkandung kecemasan dan ancaman tapi selalu ada harapan,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





