JatengNews Update

Cerita Kadisbudpar Kota Semarang Indriyasari, Jadi PNS Lantaran Terinspirasi Sosok Bu Lurah

×

Cerita Kadisbudpar Kota Semarang Indriyasari, Jadi PNS Lantaran Terinspirasi Sosok Bu Lurah

Sebarkan artikel ini
Kadisbudpar Kota Semarang Indriyasari

“Rejeki saya saat itu hanya menjadi pegawai administrasi saja. Kondisi ini, tentu sangat jauh berbeda jabatan lurah. Menjadi pegawai administrasi pembangunan, saya harus selalu bekerja di kantor. Tugas administrasi juga cukup vital, yakni  menjaga dokumen-dokumen penting pemerintah yang harus dijaga kerahasiaannya”.

Kondisi berbeda dialami Iin saat dipercaya Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk menjadi Kepala Disbudpar. Pasalnya, seorang Kepala Dinas dituntut bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat, khususnya terkait dengan kebudayaan dan pariwisata.

“Kalau dulu pas jadi admin, saya sering di kantor aja, kareba harus menjaga kerahasiaan dokumen pemerintah. Saat saya menjabat dan terpilih jadi kepala dinas, saya harus lari sana, lari sini, ketemu dengan masyarakat, berjumpa dengan banyak wartawan. Menurut saya, apa yang saya kerjakan saat ini, adalah salah satu bentuk tanggung jawab dari jabatan kepala dinas. Tugas baru saya ini penuh tantangan dan mengasyikan juga. Saya bisa menambahkan ilmu dan pengalaman di sini,” tandasnya.

Soal kiat-kiat untuk meraihjabatan ini, Iin mengaku harus melewati proses yang panjang. “Waktu itu, ketika ada info seleksi pendaftaran kepala dinas di bidang lain-lain, saya langsung daftar, tapi tidak lolos seleksi, karena harus ada tahapan-tahapan untuk bisa lolos. Dari hal itu, bagi saya itu menjadi sebuah pembelajaran dan pengalaman saya, bahwa dalam seleksi, butuh kematangan dan kesiapan keseluruhan,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, ketika ada lowongan untuk menjadi Kepala Disbudpar, Iin mencoba untuk mendaftar lagi dan mengikuti seleksi. Belajar dari kegagalan, Iin akhirnya mampu lolos dan terpilih menjadi Kepada Disbudpar Kota Semarang.

“Sara belajar dulu, kita sharecing. Saya berkordinasi kepada masyarakat, tanya-tanya termasuk kepada anak-anak saya. Apa sih yang perlu dibenahi dari sektor kebudayaan dan pariwisata Kota Semarang ini. Anak saya cuma bilang gini, emangnya di Semarang mau ngapain. Kita kalau datang ke Semarang itu belum tau kita mau ngapain. Temen-temenku belum tau, kata anak saya,” katanya.