“Rumah Bu Markonah sama Bu Indah itu paling parah. Sudah tidak dtempati, setiap hari saat hujan masih terdengar suara longsoran,”jelasnya.
Kronologi Longsor
Terpisah Ketua RT 05,Sabar Wahyudi menjelaskan kronologis beberapa rumah warganya yang menjadi korban longsor.
Jumat lalu beberapa rumah mulai mengalami keretakan setelah hujan lebat mengguyur. Salah satunya rumah Ibu Markonah yang berisi tiga jiwa akhirnya longsor.
Kemudian pada 2 Mei menyusul rumah Bapak Agung yang berisi tiga jiwa juga harus longsor. Pada tanggal 3 Mei, rumah Pak Suyono lima orang tempati kemudian menyusul longsor.
“Tadi malam abis isya yang tadinya rumahnya membelah ini jadi roboh semua. Tapi tidak ada korban jiwa, total ada 4 keluarga atau 11 jiwa yang terdampak,” jelasnya.
Dia menjelaskan, ada tiga rusak yang sudah rusak akibat longsor dan tujuh rumah lainnya berpotensi mengalami hal yang sama karena sudah ada retakan di dalam rumah.
Warga yang terdampak sejauh ini masih mengungsi di rumah warga lain yang rumahnya tidak terdampak. Namun dia meminta warga yang rumahnya sudah mulai retak untuk segera mengungsi.
“Karena potensi longsor masih bisa terjadi jika hujan lebat masih mengguyur Kota Semarang,” bebernya.
Dia berharap, ada relokasi yang dilakukan Pemkot, meskipun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) berupa logistik dan terpal. Namun tidak bisa meminimalisir longsor, cara ini ternyata tidak bisa membendung longsor lanjutan yang dialami warga hingga saat ini.
Sabar mengatakan selama puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, memang belum pernah mengalami musibah tanah longsor. Hingga saat ini sudah lebih dari 2.000 meter persegi lahan pemukiman yang longsor ke arah Sungai Kripik.
“Kalau relokasi pengennya yang tidak jauh dari sini karena warga pekerjaan dekat-dekat sini,” pungkasnya.
Koordinasi BBWS
Sementara itu, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng langsung bergerak cepat mengunjungi warga yang rumahnya terdampak tanah longsor Kampung Kalialang Lama.





