Salah satu pelanggan, Wahyu (27), mengaku kini lebih sering memilih lauk telur ԁibanding ayam ketika makan di warteg. “Karena harganya naik, biasanya lauk ayam, sekarang jadi telur,” katanya.
Menurutnya, tidak hanya warteg yang mengalami kenaikan harga, tetapi juga berbagai bahan pangan di pasar. Ia mengaku kenaikan harga kebutuhan pokok sudah ԁirasakan sejak setelah Iduladha.
“Harga telur, lombok, bumbu dapur itu naik semua. Lombok sekarang sampai Rp80 ribu per kilogram, dulu enggak sampai Rp50 ribu,” ujarnya.
Kenaikan harga, kata Wahyu, membuat masyarakat harus lebih cermat mengatur pengeluaran rumah tangga.
“Kalau saya kan untuk berdua sama suami jadi masih bisa hemat. Tapi kalau empat orang lebih baik masak sendiri karena harga di luar juga naik,” tambahnya.
Modal Belanja Naik, Keuntungan Menyusut
Selain bahan pangan, biaya operasional warteg juga mengalami kenaikan.
Siti (41), pemilik Warteg Bu Dewi di Semarang, mengungkapkan harga kertas nasi dan plastik pembungkus turut naik sehingga menambah beban usaha.
“Kertas nasi naik, plastik juga mahal semua,” katanya.
Karena itu, pihaknya menaikkan harga makanan sekitar Rp1.000 per porsi. “Naiknya paling Rp1.000. Nasi rames yang dulu Rp12 ribu sekarang Rp13 ribu,” ujarnya.
BACA JUGA: Pemilik Warteg Enggan Pulang, Angka Golput di Tegal Tinggi
Siti mengaku kenaikan harga bahan baku membuat modal harian yang harus ԁisiapkan semakin besar. Jika sebelumnya belanja dengan Rp300 ribu hingga Rp400 ribu sudah cukup, kini Rp500 ribu pun sering kali masih kurang.
“Sekarang bawa Rp500 ribu [untuk belanja] juga enggak cukup. Bahan naik semua,” katanya.
Meski sebagian pelanggan tetap datang, ia mengakui kondisi usaha tidak semudah sebelumnya karena keuntungan yang ԁiperoleh semakin tipis.
“Pusing juga. Belanja sekarang mahal semua. Nombok juga pernah,” keluhnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




