Jateng

Dapur Sudah Ada Sejak 2025, Investor Heran MBG di Wilayah 3T Karimunjawa Tak Kunjung Beroperasi

×

Dapur Sudah Ada Sejak 2025, Investor Heran MBG di Wilayah 3T Karimunjawa Tak Kunjung Beroperasi

Sebarkan artikel ini
MBG 3T
Investor SPPG wilayah 3T Jawa Tengah, Rendra Bayu, saat dijumpai di Kota Semarang, Selasa, 30 Juni 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal pemerintah proyeksikan untuk menjangkau daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Namun hingga memasuki pertengahan 2026, lima dapur MBG di wilayah 3T Jawa Tengah justru belum juga beroperasi meski seluruh bangunan selesai ԁibangun sejak akhir 2025.

Kondisi tersebut membuat sebanyak 2.514 calon penerima manfaat di wilayah kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, serta pesisir Kabupaten Demak hingga kini belum merasakan program MBG.

Padahal seluruh persyaratan operasional, mulai dari pembangunan, appraisal, inspeksi kesehatan lingkungan hingga Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), telah rampung.

BACA JUGA: Soal MBG Integrasi dengan Kantin Sekolah, Komisi E DPRD Jateng: Jangan Sampai Ganggu Proses Pendidikan

Investor SPPG wilayah 3T Jawa Tengah, Rendra Bayu, mengaku kini hanya menunggu kepastian dari Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai kapan lima dapur MBG tersebut mulai beroperasi. Hal itu Rendra ungkap saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, Selasa, 30 Juni 2026.

“Harapannya untuk BGN sendiri, kapan lagi kita harus merealisasikan 3T ini untuk jalan? Karena iri, Pak, iri. Adik-adik atau saudara kita yang memang jauh di sana melihat dari TV atau media sosial atau ketika pulang ke Jepara melihat teman-temannya yang SD, SMP sudah dapat MBG. Nah, di sana itu benar-benar enggak dapat,” ujar Rendra.

Menurutnya, persoalan yang kini menjadi perhatian bukan semata investasi yang telah ԁikeluarkan, melainkan masyarakat di wilayah kepulauan yang justru belum menikmati program yang sejak awal pemerintah gadang-gadang memprioritaskan daerah 3T.

“Kalau mungkin ԁikatakan [faktor] bisnis ya mungkin ada, kemudian kalau dari kemaslahatannya juga boleh. Yang paling penting itu masyarakat di sana bisa segera menikmati MBG,” katanya.

Rendra Nilai Wilayah 3T Justru Lebih Layak jadi Prioritas Penerima MBG

Rendra menilai, pelaksanaan MBG sejauh ini lebih banyak berlangsung di kawasan perkotaan atau aglomerasi. Padahal, menurutnya, wilayah 3T justru menjadi kelompok yang lebih membutuhkan program tersebut.