SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis komunitas dengan meresmikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bugen di Kelurahan Tlogosari Wetan, Kecamatan Pedurungan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyebut TPS ini tidak hanya berfungsi sebagai lokasi penampungan sementara. Tetapi juga menjadi ruang edukasi lingkungan sekaligus peluang ekonomi bagi warga.
Peresmian TPS Bugen menjadi penanda komitmen pemerintah kota dalam mendorong perubahan budaya pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Berbeda dengan TPS konvensional, TPS Bugen di rancang untuk mendorong pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
“TPS Tlogosari Wetan ini bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kebersamaan. Dengan adanya TPS ini, warga bisa mulai memilah sampah dari rumah sehingga volume sampah yang warga buang ke TPA dapat berkurang,” ujar Agustina.
Agustina mengakui persoalan penempatan TPS kerap menimbulkan penolakan di tengah masyarakat. Namun, TPS Bugen justru berdiri atas dukungan warga dan tokoh lingkungan setempat, sehingga di proyeksikan menjadi percontohan pengelolaan TPS di Kota Semarang.
“Kalau TPS di pinggir jalan kami bilang tidak elok, di tengah permukiman juga sering ada protes. Padahal setiap orang pasti menghasilkan sampah. Kalau tidak ada TPS, sampah mau kita buang ke mana?” katanya.
BACA JUGA: Bekas TPS Depan Puskesmas Pegandan Ganggu Kebersihan dan Estetika, Camat: Bakal Kita Bongkar!
Karena itu, TPS Bugen kini menjadi pilot project pengelolaan sampah berbasis komunitas. Pemerintah kota menyiapkan pengembangan TPS ini sebagai pusat pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly. Tentunya dengan kerja sama tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, dan kalangan akademisi.
Menurut Agustina, pengolahan sampah organik melalui maggot tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Ia pun mendorong kolaborasi dengan dapur produksi makanan, termasuk SPPG atau MBG, agar sampah organik dapat kita pilah dan manfaatkan sebagai pakan maggot.
“Kalau kita ingin perubahan budaya bersih kota, prosesnya memang harus mulai dari TPS. TPS ini harus hidup secara ekonomi, memberi manfaat bagi pengelolanya, dan berdampak positif bagi lingkungan,” ujarnya.
Berdasarkan data pengelolaan limbah perkotaan, Kota Semarang menghasilkan lebih dari 1.200 ton sampah setiap hari.
Sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir, sementara penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle belum optimal di seluruh wilayah.
Di kawasan timur kota, termasuk Tlogosari Wetan, sampah yang tidak terkelola dengan baik kerap menyumbat saluran air dan sungai, sehingga memicu genangan saat musim hujan. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi wilayah dengan permukiman padat dan topografi dataran rendah.
Kelurahan Tlogosari Wetan memiliki luas sekitar 1,25 kilometer persegi dengan kepadatan penduduk yang tinggi.
Karakter wilayah ini menuntut sistem pengelolaan sampah yang terorganisir dan melibatkan partisipasi aktif warga sejak dari tingkat rumah tangga.
Dengan peresmian TPS Bugen, pemerintah berharap kesadaran warga dalam memilah, mengurangi, dan memanfaatkan kembali sampah semakin meningkat.
Selama ini, sebagian warga Tlogosari Wetan juga telah menjalankan program bank sampah yang memberikan nilai ekonomi dari sampah terpilah.
Agustina menegaskan pemerintah kota akan terus mengawal operasional TPS Bugen melalui pendampingan dan sosialisasi berkelanjutan.
“Program ini harus menjadi inspirasi lintas kelurahan. Kota yang bersih itu dimulai dari rumah kita masing-masing,” katanya.
Peresmian TPS Bugen disambut positif oleh warga dan kader lingkungan. Mereka optimistis kehadiran fasilitas ini dapat meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi dari pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. (*)
Editor: Elly Amaliyah





