Tak hanya memperkuat spiritualitas, kegiatan tersebut juga menekankan aspek kemandirian ekonomi. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pelatihan pijat, khususnya teknik totok punggung untuk meningkatkan kemampuan terapi.
Menurut Andy, pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas netra.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman tunanetra memiliki semangat belajar yang tinggi. Walaupun membaca Al-Qur’an Braille tidak mudah, mereka tetap berusaha,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





