Sementara itu, di ranah media sosial, tercatat sebanyak lebih dari 55.600 lebih unggahan dari 28.100 warganet yang menghasilkan volume percakapan (total talk) mencapai lebih dari dua juta percakapan atau interaksi. Hal ini merefleksikan bahwa satu isu bencana mampu memicu diskusi berkelanjutan secara organik dan memiliki resonansi emosional yang kuat.
“Interaksi tertinggi ada di platform Instagram dan TikTok. Interaksi di TikTok mencapai 939.289 dan pada Instagram 909.837 intensitas percakapan. Data tadi menunjukkan percakapan soal bencana sangat viral di kedua platform itu,” tambah Neni.
Menurut kajian DIR, terdapat tiga klaster utama yang mendominasi percakapan publik, yaitu klaster kemanusiaan dengan fokus percakapan soalkondisi korban dan kronologi bencana.
BACA JUGA: Bencana di Sumatera Jadi Peringatan, Warga Jateng Serukan Tolak Proyek Perusak Lingkungan
Klaster kedua soal gugatan sistemik berupamunculnya pendapat publik yang menyebut bencana disebabkan oleh eksploitasi hutan dan tambang. Dugaan ini makin kuat dengan temuan kayu gelondongan di sejumlah lokasi banjir.
Klaster ketiga ialah eskalasi politik yang mempertunjukan adanya kritik langsung terhadap figur otoritas pemerintah atas keterlambatan penanganan bencana yang mulai dianggap sebagai krisis legitimasi negara dan kegagalan komunikasi publik. Klaster percakapan ini mempertunjukkan kritik publik yang mengkritik kurangnya kepekaan saat krisis bencana ekologi terjadi.
“Hal yang patut mendapat perhatian kita adalah munculnya narasi disintegrasi seperti kata kunci ‘Merdeka’ di wilayah Aceh dan Nias sebagai bentuk protes atas abainya pemerintah pusat. Hal ini menandakan bencana telah bertransformasi menjadi alat tawar politik yang berpotensi mengancam stabilitas nasional,” ungkap Neni.
Rekomendasi strategis DIR
Berdasarkan matriks risiko dan temuan peta isu dalam data kajian media monitoring ini, DIR merekomendasikan beberapa hal berikut.





