Agus Djun menjelaskan, desil memiliki pengaruh besar terhadap akses masyarakat terhadap sejumlah program bantuan sosial. Kelompok desil 1 hingga 4 menjadi kelompok yang menjadi sasaran bantuan bagi warga yang membutuhkan sesuai kriteria program.
“Bantuan sosial yang bisa diberikan itu desil 1 sampai dengan desil 4. Ini mencakup warga yang memang membutuhkan,” jelasnya.
Karena itu, kesalahan data dapat berdampak langsung terhadap warga. Masyarakat yang sebenarnya membutuhkan bantuan bisa kehilangan haknya jika kondisi sosial ekonominya tercatat tidak sesuai.
Untuk memastikan data akurat, petugas melakukan verifikasi faktual di lapangan. Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) bersama kelurahan dan unsur wilayah melakukan pengecekan berdasarkan sejumlah indikator sosial ekonomi.
“Data akan dicek berdasarkan 39 variabel. Dari situ akan dilihat apakah warga memang memenuhi syarat atau desilnya yang tidak sesuai,” kata Agus.
Saat ini, Dinsos Kota Semarang memiliki sekitar 260 PSM yang tersebar di 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Mereka menjadi salah satu ujung tombak pemerintah dalam melakukan pembaruan data warga.
Menurut Agus, usulan perubahan desil dari masyarakat juga terus muncul setiap bulan. Jumlahnya bahkan dapat mencapai ratusan usulan.
“Setiap bulan banyak yang berubah desil. Kami sifatnya melakukan pembaruan data. Warga tidak mampu desilnya tinggi atau warga mampu desilnya rendah, itu bisa diusulkan untuk perubahan,” ungkapnya.
Jangan Sembarangan Pinjamkan Identitas
Di tengah upaya memperbaiki data bansos, Dinas Sosial Kota Semarang juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan meminjamkan identitas atau rekening kepada orang lain.
Agus mengatakan kondisi sosial ekonomi seseorang dapat terbaca berbeda ketika identitasnya ia gunakan untuk aktivitas finansial tertentu. Hal tersebut berpotensi memengaruhi penilaian dalam DTSEN.
“Jangan mudah meminjamkan identitas. Warga tidak mampu tetapi identitasnya terpakai untuk kredit mobil, kredit rumah atau pinjaman lainnya, itu bisa membuat statusnya di anggap mampu,” ujarnya.
Ia juga menyinggung temuan rekening warga penerima bansos yang terindikasi untuk aktivitas pinjaman online maupun judi online.





