“Saya yakin ada yang berkeingin jaraknya memungkinkan itu bisa. Tapi, tidak ada PPDB offline bukan, PPDB hanya satu kali. Kalau ada yang masih kosong, kami analisis evaluasinya bagaimana, siapa yang menggantikan. Kita tidak bisa memaksa dari jauh untuk mengisi. Ini SD. Lain dengan SMP,” ujarnya.
Dia mencontohkan, banyak pendaftar dari Gunungpati, sedangkan sekolah yang tidak terpenuhi kuota di Semarang Selatan. Tentu saja, jaraknya cukup jauh. Sehingga, perlu jadi pertimbangan jika siswa di Gunungpati harus bersekolah di Semarang Selatan.
“Kita lihat saja bagaimana respon masyarakat. Mungkin kita akan melakukan merger-merger sekolah yang sepi peminat karena angka ibu hamil semakin menyempit,” ujarnya.
Namun demikian, pihaknya tidak mempermasalahkan jika satu sekolah hanya kurang dua atau tiga siswa saja. Menurutnya, itu tidak akan mengganggu proses pembelajaran. Justru, kualitas pembelajaran akan lebih baik.
“SD kan satu rombel maksinal 28 siswa. Kalau kurangnya dua atau tiga tidam masalah, pembelajaran justru semakin meningkat,” ucapnya.
Sementara, sambung Erwan, jika di sekolah dengan jumlah pendaftar yang membludak, ada yang tidak melalukan daftar ulang ganti cadangan untuk mengisi kekosongan. (*)





