SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat layanan pendidikan inklusif dengan menggelar Sosialisasi Pelaksanaan Asesmen Pra Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Inklusi dan Tes Kesiapan Sekolah Tahun 2026.
Kegiatan ini berlangsung secara daring pada Jumat, 6 Februari 2026. Hadir melalui zoom, satuan pendidikan, orang tua, serta pemangku kepentingan pendidikan.
Sosialisasi ini menjadi langkah awal untuk memastikan seluruh pihak memahami mekanisme asesmen bagi calon peserta didik. Khususnya anak penyandang disabilitas, agar proses penerimaan sekolah berjalan adil dan sesuai kebutuhan anak.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Joko Hartono, menegaskan bahwa asesmen menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkualitas.
“Sistem penerimaan peserta didik harus berdasarkan pada asesmen yang objektif dan berbasis kebutuhan anak. Dengan begitu, sekolah dapat menyiapkan layanan yang sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing peserta didik,” ujar Joko.
Dalam sosialisasi tersebut, pemaparan materi teknis langsung oleh psikolog dari ULDPKPD Rumah Duta Revolusi Mental, Putri Marlenny. Ia menjelaskan bahwa asesmen psikologis bukan bertujuan membatasi akses anak ke sekolah, tetapi membantu sekolah memahami kebutuhan spesifik peserta didik.
“Asesmen ini membantu sekolah dan orang tua memahami profil anak, sehingga intervensi pendidikan dapat dirancang secara tepat sejak awal,” kata Putri.
BACA JUGA: SMP Swasta Merugi Akibat SPMB, Kepala Sekolah: Harus Ada Kebijakan yang Adil
Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aloysius Kristiyanto, memaparkan kebijakan pelaksanaan Pra SPMB Inklusi di jenjang SMP.
Menurutnya, proses pemetaan peserta didik akan menjadi dasar penyusunan layanan pembelajaran yang adaptif dan ramah anak.
Untuk mendukung pelaksanaan asesmen, Pemerintah Kota Semarang menggandeng jaringan lembaga mitra, mulai dari rumah sakit, laboratorium psikologi, hingga biro layanan psikologi.
Kolaborasi ini memastikan proses asesmen berjalan profesional dan komprehensif, baik bagi calon murid dari keluarga kurang mampu maupun keluarga sejahtera.
Selain asesmen inklusi, Tes Kesiapan Sekolah juga untuk memetakan kesiapan peserta didik sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Pemerintah kota menggunakan jaringan lembaga mitra yang sama untuk memastikan hasil pemetaan dapat berjalan secara optimal oleh sekolah.
Sebagai kota yang mengembangkan layanan pendidikan inklusif. Semarang memiliki sejumlah sekolah dan pusat layanan pendidikan inklusi yang tersebar di berbagai wilayah. Mulai dari pusat kota hingga kawasan pinggiran.
Keberadaan pusat layanan ini harapannya memperluas akses pendidikan ramah anak dan disabilitas.
Melalui sosialisasi ini, Dinas Pendidikan Kota Semarang berharap orang tua, sekolah, dan pemangku kepentingan memiliki persepsi yang sama tentang pentingnya pendidikan inklusif.
Dengan sistem Pra SPMB yang transparan dan berbasis asesmen, setiap anak harapannya mendapatkan kesempatan belajar yang setara dan bermartabat sesuai kebutuhan mereka. (*)
Editor: Elly Amaliyah





