Jateng

Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km

×

Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km

Sebarkan artikel ini
Dua Bus Listrik Trans Semarang Resmi Mengaspal, Harga Rp4,5 Miliar Bisa Tempuh hingga 240 Km
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dan Wawali Kota Iswar Aminuddin seusai melaunching dua armada Bus listrik Trans Semarang di Balai Kota Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang resmi mengoperasikan 2 unit Bus listrik untuk menunjang moda transportasi massal Trans Semarang yang ramah lingkungan.

Launching Bus Listrik berlangsung di Balai Kota Semarang, Rabu, 23 September 2026 bersamaan dengan peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan kehadiran bus listrik bukan hanya penambahan armada Trans Semarang.

Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi cara pemerintah mengenalkan penggunaan kendaraan listrik kepada masyarakat.

“Jadi ini adalah gerakan lingkungan untuk mengurangi emisi di Kota Semarang. Kita berharap bus listrik, kemudian angkutan lainnya, ada taksi listrik, lalu masyarakat akan mulai tahu dan merasa yakin kalau penggunaan mobil listrik itu tidak akan repot,” kata Agustina.

BACA JUGA: Dari “Cumi-Cumi Darat” ke Bus Listrik, VKTR Hadirkan 27 Bus Trans Semarang Ramah Lingkungan 

Ia menilai masih ada keraguan masyarakat terhadap kendaraan listrik. Salah satunya berkaitan dengan lokasi pengisian daya dan kekhawatiran terhadap kemampuan baterai setelah penggunaan dalam waktu lama.

Karena itu, Pemkot Semarang ingin menunjukkan langsung bahwa kendaraan listrik dapat beroperasi untuk aktivitas transportasi sehari-hari.

“Dengan kita memberi angkutan Trans Semarang satu bus listrik, maka masyarakat akan merasa, oh iya, ini waktunya mungkin menggunakan kendaraan listrik. Tentu sustainability-nya itu akan terjaga,” ujarnya.

Menurut Agustina, satu bus listrik juga mampu mengangkut banyak penumpang sekaligus. Penggunaan transportasi massal berbasis listrik tentunya dapat menjadi bagian dari perubahan perilaku transportasi masyarakat.

Target Kurangi “Cumi-Cumi Darat”

Agustina juga menyinggung persoalan emisi dari armada bus lama Trans Semarang yang masih mengeluarkan asap knalpot pekat bak “cumi-cumi darat”.

“Eh kita harus mengatakan perlahan-lahan selamat tinggal cumi-cumi darat,” kata Agustina.

Ia mengakui pengoperasian bus listrik belum langsung menghilangkan seluruh armada lama. Namun, pemerintah akan mengurangi kendaraan yang menghasilkan emisi secara bertahap.

“Saya minta masukan masyarakat yang masih mengeluarkan cumi-cumi darat. Laporkan saja kepada Pemerintah Kota supaya nanti di panggil sama Dinas Perhubungan dan di minta untuk segera proses. Sama seperti bus yang lain-lainnya untuk mengganti bus yang baru,” ujarnya.

Agustin menyebut pengurangan armada lama akan dilakukan secara bertahap. Setiap penggantian armada diharapkan ikut mengurangi emisi dari transportasi publik.

“Kalau menghilangkan mungkin itu terlalu ekstrem ya. Mengurangi. Jika satu bus akan berkurang, satu bus akan berkurang terus-menerus, nanti lama-lama akan selesai,” katanya.

Dua bus listrik yang diluncurkan menjadi bagian awal dari rencana elektrifikasi armada Trans Semarang. Armada tersebut akan ditempatkan di Koridor 1.

“27 bus di Koridor 1 dulu,” ujar Agustina saat ditanya mengenai rencana pengoperasian bus listrik.

Bus Listrik Bisa Tempuh hingga 250 Kilometer

Direktur Utama VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, Ardie Bakrie, mengatakan pihaknya memiliki komitmen untuk mendukung elektrifikasi transportasi di Kota Semarang.

Menurut dia, pengembangan bus listrik juga melibatkan industri nasional, termasuk Hino dan Laksana sebagai produsen karoseri.

“Ya tentu kita mempunyai komitmen untuk membangun elektrifikasi di Semarang. Tidak hanya kami dari Hino VKTR, juga Laksana sebagai karoseri yang telah memiliki TKDN 40 persen,” kata Ardie.

Direktur Teknik PT Laksana Bus Manufaktur, Stefan Arman, mengatakan pihaknya mengapresiasi kepercayaan Pemkot Semarang terhadap industri dalam negeri.

“Kami dari Laksana pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pemkot Semarang yang telah memberikan kepercayaan dan terus mengubah tata kota Semarang ini menjadi sebuah kota yang lebih sustainable,” ujar Stefan.

Ia mengatakan Laksana memiliki pengalaman panjang dalam memasok bus perkotaan. Peralihan menuju bus listrik, menurutnya, membawa tantangan baru karena kendaraan harus di rancang untuk penggunaan intensif dalam transportasi publik.

Untuk bus listrik Trans Semarang, Laksana menggunakan material yang di rancang untuk memperpanjang usia kendaraan.

Bagian frame menggunakan stainless steel, sedangkan panel interior dan eksterior menggunakan material ringan dengan usia pakai yang panjang.

“Ini memang semuanya khusus, di desain untuk kebutuhan bus listrik, untuk bus perkotaan. Jadi, itu salah satu keunggulan dari bus yang kami sudah produksi,” jelas Stefan.

Dari sisi baterai, bus tersebut memiliki kapasitas sekitar 340 kilowatt hour (kWh). Jarak tempuh maksimal dapat mencapai sekitar 250 kilometer.

Namun, untuk menjaga kesehatan baterai, penggunaan daya tidak boleh penggunaannya hingga benar-benar habis. Dengan pola penggunaan tersebut, jarak operasional berada di kisaran 200 hingga 240 kilometer.

Pengisian daya akan terlaksana di pool operator. Daya pengisian sekitar 150 kW sehingga baterai perkiraannya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk terisi penuh.

“Kita desain bus ini memang untuk one time charging. Jadi, setelah selesai beroperasi di malam hari itu akan kita charging di malam hari. Pagi harusnya sudah siap beroperasi untuk penuh satu hari kerja operasional,” kata Stefan.

Harga Bus Sekitar Rp4,5 Miliar

Stefan mengatakan dua unit bus listrik saat ini sudah Laksana kirimkan kepada Pemkot Semarang. Pengiriman unit berikutnya akan terlaksana secara bertahap.

“Saat ini memang masih dalam proses produksi. Jadi, kita sudah delivery dua unit. Nanti dari minggu ke minggu kita akan terus melakukan delivery ke Pemkot,” ujarnya.

Untuk harga, satu unit bus listrik tersebut berada di kisaran Rp4,5 miliar.

Meski harga awal kendaraan listrik relatif tinggi, Stefan menilai karakteristik kendaraan listrik memiliki keunggulan untuk operasional transportasi perkotaan. Salah satunya terlihat saat bus melintasi jalan menanjak maupun menurun.

“Bus listrik ini justru kalau medannya nanjak turun ini justru memiliki keuntungan. Yang pertama, dia mempunyai torque yang sangat tinggi, jadi untuk nanjak itu justru lebih responsif daripada bus diesel,” jelasnya.

Pada kondisi turunan, sistem pengereman regeneratif juga dapat membantu mengembalikan sebagian energi ke baterai.

“Dan saat turunan juga karena adanya baterai dan juga kemampuan regeneratif itu akhirnya bisa mendapatkan daya yang lebih dari saat melakukan turunan,” katanya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp