Pendidikan

Dua Ribu Kursi Sekolah Swasta Mitra Pemprov Jateng Kosong, Disdikbud Sebut Aksesibilitas Siswa jadi Alasan

×

Dua Ribu Kursi Sekolah Swasta Mitra Pemprov Jateng Kosong, Disdikbud Sebut Aksesibilitas Siswa jadi Alasan

Sebarkan artikel ini
sekolah swasta mitra | spmb 2025
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, saat beritajateng.tv jumpai di Kompleks Gubernuran, Kota Semarang, Senin, 23 Juni 2025 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pintu akses pendidikan gratis bagi siswa miskin dibuka lebar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026 ini, Pemprov Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjalin mitra dengan 139 SMA/SMK swasta di 35 kabupaten/kota se-Jateng.

Sebagai informasi, terdapat 5.040 kuota di sekolah swasta bagi calon murid baru yang tidak lolos SMA/SMK negeri pada SPMB tahap pertama.

Untuk mengisi kuota tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng membuka SPMB tahap kedua khusus siswa afirmasi yang tak lolos SMA/SMK negeri untuk masuk sekolah swasta. Adapun SPMB tahap kedua itu berlangsung pada 7-9 Juli 2025 lalu.

BACA JUGA: Anak Gagal Masuk SMA Negeri, Wali Murid Bersyukur Ada Program SMA/SMK Swasta Gratis

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng, Sadimin, menyebut ada 70 ribu siswa afirmasi atau siswa miskin yang telah lolos SPMB di SMA/SMK negeri se-Jateng.

Meskipun pihaknya telah menyediakan 5.040 kuota, hanya 2.460 orang yang mengisi bangku sekolah swasta yang menjadi mitra.

Sadimin merinci, dalam program kemitraan itu, sebanyak 1.913 siswa mendaftar saat SPMB tahap 1 dan 551 orang mendaftar SPMB tahap 2.

“Total sementara 2.460 [siswa program kemitraan] yang melakukan daftar ulang pada 11 Juli 2025 atau 49,2 persen dari total kuota,” ungkap Sadimin saat beritajateng.tv konfirmasi, Sabtu, 12 Juli 2025.

Jarak rumah calon murid baru ke sekolah swasta mitra jadi kendala

Pihaknya menyebut, alasan rendahnya jumlah pendaftar di 139 sekolah swasta kemitraan itu bukan karena calon murid baru tak tertarik.

Melainkan, kata Sadimin, ada kendala aksesibilitas siswa menuju sekolah tersebut yang memakan biaya transportasi cukup besar.

“Jarak tempuh jadi pertimbangan. Mereka akhirnya tetap bersekolah di swasta regular ya,” jelas Sadimin.

Oleh sebab itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan melakukan evaluasi terhadap sekolah swasta kemitraan yang mendapatkan sedikit siswa, termasuk sekolah yang sama sekali tak mendapatkan siswa kemitraan alias nol pendaftar.

BACA JUGA: Besok Hari Terakhir SPMB Jateng Tahap II, Program SMA/SMK Swasta Gratis Serap 2.238 Siswa Miskin

SMK dan SMA swasta yang jalin kemitraan sepi peminat

SMK Kartini yang berlokasi di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, menjadi salah satu yang mendapat sedikit siswa pada SMPB tahap pertama maupun tahap kedua.

Kepala SMK Ibu Kartini, Muhdlor, mengatakan pada SPMB tahap pertama pihaknya hanya memperoleh 11 calon murid baru. Dari 11 orang tersebut, kata Muhdlor, hanya ada tujuh orang yang daftar ulang.

“Di sini hanya dapat 11 calon siswa pada gelombang satu, yang daftar ulang hanya tujuh. Kalau SMA Bina Nusantara di Ngaliyan itu yang daftar sembilan, tapi daftar ulang semuanya. Sehingga kan daftar [kuota] 36 itu tidak nutup semuanya. Setelah itu mungkin evaluasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengadakan SPMB gelombang kedua,” ungkap Muhdlor.

Sementara itu, SMA Mardisiswa yang berlokasi di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, juga sedikit pendaftar Dari kuota 36 murid, jalur ini baru terisi dua orang.

BACA JUGA: Mayoritas Siswa Afirmasi di Kabupaten Semarang Sudah Masuk Sekolah Swasta

Kepala SMA Mardisiswa Semarang, Marwulandari Sayekti, menyebut kedua murid itu mendaftar pada tahap ledua. Hal itu Marwulandari ungkap saat beritajateng.tv jumpai langsung di kantornya pada Rabu, 9 Juli 2025.

“Sampai hari ini yang mendaftar baru dua siswa dan kebetulan itu siswa yang masuk daftar tunggu di sekolah kami,” ungkapnya.

Sementara di tahap pertama, tidak ada murid yang mendaftar melalui jalur kemitraan atau afirmasi di SMA Mardisiswa. Berkaca dari jalur afirmasi di SMA Negeri, Marwulandari mengatakan bahwa kuota jalur afirmasi memang sering tak terpenuhi.

“Enggak ada kalau kami, enggak menerima [tahap pertama]. Maksudnya nol yang daftar karena di [SMA] negeri aja kuotanya tidak terpenuhi. Contohnya SMAN 9 itu, kalau enggak salah itu kuotanya 100-an lebih. Cuma 20-an lebih yang daftar lewat jalur afirmasi. Jadi kan masih kurang banyak itu,” paparnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp