SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 5 (lima) perusahaan di Jawa Tengah (Jateng) berlakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal selama tahun 2024 ini.
Adapun kelima perusahaan itu tersebar di beberapa kabupaten di Jateng, yakni Boyolali, Wonogiri, Pemalang, hingga Purworejo.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jateng, Ahmad Aziz membeberkan, perusahaan yang melakukan PHK massal itu bergerak di bidang garment (pakaian), produksi kertas, dan keuangan.
Pihaknya merinci, kelima perusahaan itu ialah PT Semar Mas Garment (Boyolali), PT Cermai Makmur (Boyolali), PT Maju Sakti Abadi Ngadirojo (Wonogiri), PT Cahaya Timur Garmindo (Pemalang), dan Bank Purworejo (Purworejo).
Menurut data Disnakertrans Jateng yang beritajateng.tv terima pada Rabu, 19 Juni 2024 sore, PHK terbanyak dilakukan oleh PT Semar Mas Garment, sebanyak 197 tenaga kerja. Sementara itu, PT Maju Sakti Abadi Ngadirojo melakukan PHK sebanyak 105 tenaga kerja.
Disusul oleh Bank Purworejo (Perumda) yang melakukan PHK kepada 60 karyawannya. Serta PT Cermai Makmur yang melakukan PHK kepada 55 karyawannya.
BACA JUGA: Beredar Kabar soal PHK 8 Ribu Pekerja, PT Sai Apparel Semarang Beberkan Fakta-fakta Ini
Sementara itu, sebanyak 650 tenaga kerja PT Cahaya Timur Garmindo terancam PHK lantaran kondisi perusahaan yang pailit.
“PT Cahaya Timur Garmindo pailit. Saat ini masih dalam pengurusan kurator dan perusahaan masih beroperasional di bawah kendali kurator sampai dengan selesainya lelang,” jelas Aziz.
Dari kelima perusahaan itu, sebanyak 1.067 tenaga kerja terkena PHK massal.
Total 7 Ribu lebih pegawai kena PHK di tahun 2024
Sementara itu, Ahmad Aziz mengungkap secara keseluruhan, sebanyak 7.437 tenaga kerja di Jateng mengalami PHK sepanjang tahun 2024. Selain lima perusahaan di atas, Aziz menyebut ada beberapa perusahaan besar yang tutup, sehingga terpaksa melakukan PHK.
Salah satu yang ia sebut ialah PT Dupantex yang tutup permanen per 6 Juni 2024 lalu. Adapun jumlah karyawan PT Dupantex, tutur Aziz, ialah 800 orang.
“(Untuk PT Dupantex) dilakukan proses bipartite, mediasi ke Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Tak hanya itu, PT Kusuma Putera Group, yang terdiri dari 3 (tiga) anak perusahaan meliputi PT Kusumahadi Santosa, PT Pamor, Spinning Mills, dan PT Kusumaputra Santosa juga tak beroperasi selama 3 (tiga) bulan. Sehingga, 642 karyawannya dalam proses PHK dan tengah menjalani proses bipartit.
PHK 2023 ternyata lebih banyak, ini rincian perusahaan yang merumahkan pegawainya
Kendati PHK berimbas kepada 7 ribu lebih tenaga kerja di Jateng, Aziz menyebut angka itu tak sebanyak tahun 2023 silam. Ia menuturkan, sebanyak 8.588 tenaga kerja terkena PHK di tahun 2023 lalu.
Di tahun 2023, tutur Aziz, PT Sinar Panca Jaya melakukan PHK kepada 1.000 karyawannya akibat dampak COVID-19.
Adapun perusahaan yang melakukan PHK di tahun 2023 itu ialah PT. Tossa Shakti (Kendal – Suku cadang sepeda dan produsen), PT Tanjung Kreasi Parquet Industry (Temanggung – Pengolahan kayu), PT Bamas Satria Perkasa (Purwokerto – Retail), PT. Delta Merlin Dunia Textile 5 (Sukoharjo – Tekstil), PT. Asia Pacific Fibers (Kendal – Produsen polister).
BACA JUGA: Badai PHK Terjang Jawa Tengah, KSPI Ungkap 500 Lebih Buruh di Kota Semarang Dirumahkan
PT Erela (Kota Semarang – Farmasi), PT. Shoenary Javanesia Inc (Temanggung – Produsen sepatu), PT. Multikarsa Investama (Kendal – Tekstil), PT Marate (Kota Semarang – Mebel), PT Vision Land (Kabupaten Semarang – Garmen), PT. Morich Indo Fashion (Kabupaten Semarang – Garmen), PT. Pandawa Arista Sejahtera (Pemalang – Garmen), PT. Anugrah Megah Jaya Textile (Pemalang – Tekstil).
PT. Mitra Rizki Jariyah (Pemalang), PT. Tri Abadi Purnama (Kendal – Kayu lapis), PT Sumber Makmur Anugrah (Temanggung – Tekstil), PT Jati Kencana Beton (Kabupaten Magelang – Ready mix), PT Sinar Panca Jaya (Kota Semarang – Garmen), dan PT Apac.
Menariknya, dalam kesempatan yang sama, Aziz membeberkan adanya penurunan terhadap tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Tengah.
Pada tahun 2023, TPT ada di angka 5,13 persen atau sebanyak 1.080.000 pengangguran terbuka. Sementara di tahun 2024, TPT turun menjadi 4,39 persen atau 980.000 pengangguran terbuka.
“Yang menganggur itu dihitung dari usia 15 tahun, sementara yang masuk perusahaan itu usia 18 tahun. Serapan tenaga kerja di Jateng cukup tinggi, banyak investasi yang masuk di Jateng,” jelas Aziz. (*)
Editor: Farah Nazila





