Pendidikan

Dukung Potensi Anak Spesial, Sekolah Inklusi Fun and Play Bawa Pembelajaran ke Ruang Publik

×

Dukung Potensi Anak Spesial, Sekolah Inklusi Fun and Play Bawa Pembelajaran ke Ruang Publik

Sebarkan artikel ini
siswa sekolah inklusi
Keseruan siswa Sekolah Inklusi Fun and Play saat mewarnai dan bermain clay di Fun and Play Goes to Queen City Mall. Jumat, 30 Januari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pembelajaran sosial sejak usia dini menjadi fokus utama Sekolah Inklusi Fun and Play melalui kegiatan Fun and Play Goes to Queen City Mall yang berlangsung di Auditorium Atlas Queen City Mall pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung di ruang publik bagi siswa Taman Kanak-kanak (TK).

Puluhan siswa TK Fun and Play mengikuti aktivitas belajar yang biasanya berlangsung di lingkungan sekolah, namun kali ini berpindah ke pusat perbelanjaan. Langkah ini menjadi bagian dari pengenalan konsep pendidikan inklusi kepada masyarakat luas, sekaligus melatih kepekaan sosial anak sejak dini.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mengikuti beragam aktivitas edukatif seperti bernyanyi, menari, fashion show, mendongeng, hingga market tour dengan mengunjungi sejumlah tenant di dalam mal. Suasana belajar yang berbeda ini untuk memperkenalkan anak pada kehidupan sosial yang lebih luas dan beragam.

Penanggung Jawab Sekolah Inklusi Fun and Play, Agung Prasetyo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sejatinya merupakan aktivitas rutin sekolah yang sengaja dibawa ke ruang publik.

“Ini sebenarnya kegiatan rutin di sekolah, hanya kami alihkan ke mal. Tujuannya agar masyarakat memahami seperti apa sekolah inklusi, karena masih banyak yang belum mengetahui konsep sekolah inklusi,” ujar Agung di sela kegiatan.

BACA JUGA: Rawat Kerukunan Lintas Agama, Unimus Tekankan Kampus Inklusif dan Tanpa Bullying

Menurut Agung, pembelajaran di ruang publik penting untuk mengenalkan anak pada situasi sosial yang nyata, termasuk interaksi jual beli dan keberagaman lingkungan yang tidak mereka temui di sekolah.

“Mereka di kenalkan suasana jual-beli, interaksi di ruang publik, dan di ajak tour ke beberapa tenant seperti Uniqlo dan Hero. Ini bagian dari pembelajaran sosial,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, Agung berharap masyarakat dapat memahami bahwa anak-anak di sekolah inklusi membutuhkan pendekatan yang berbeda. Namun tetap memiliki potensi besar untuk berkembang.