Gaya Hidup

Festival GULA di Semarang, Baca Kehidupan Warga Gunung dan Laut Lewat Riset Seni dan Kebudayaan

×

Festival GULA di Semarang, Baca Kehidupan Warga Gunung dan Laut Lewat Riset Seni dan Kebudayaan

Sebarkan artikel ini
Festival GULA
Edukasi mahasiswa di Festival GULA di Tan Art Space Papandayan Semarang, Rabu, 13 Mei 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Cara masyarakat gunung dan pesisir bertahan hidup ternyata membentuk karakter budaya yang sangat berbeda. Di lereng pegunungan, warga hidup lebih tenang dan dekat dengan alam. Sementara di kawasan pesisir, masyarakat terbiasa menghadapi tekanan lingkungan seperti rob dan perubahan cuaca yang memaksa mereka terus beradaptasi.

Perbedaan itulah yang kini ԁiangkat dalam Festival GULA, sebuah program riset berbasis seni yang mempertemukan masyarakat gunung, laut, dan kota melalui pendekatan kebudayaan.

Ketua Festival GULA, Ari Eko Budiyanto, mengatakan riset ԁilakukan langsung di Dusun Thekelan lereng Merbabu dan Kampung Nelayan Tambak Lorok Semarang. Dari dua lokasi itu, tim menemukan bahwa kondisi lingkungan sangat memengaruhi pola hidup dan cara masyarakat menjaga tradisi.

“Kalau masyarakat gunung itu pola kehidupannya lebih santai, lebih rileks, lebih enjoy. Cara berkesenian mereka juga seperti itu, mengalir dan tidak ԁibuat-buat,” ujar Ari saat beritajateng.tv temui di Tan Art Space Papandayan Kota Semarang pada Rabu, 13 Mei 2026.

Menurutnya, masyarakat pegunungan hidup dengan ritme yang lebih dekat dengan alam. Kesenian lahir secara alami dari kehidupan sehari-hari warga, bukan sesuatu yang ԁipaksakan menjadi pertunjukan mewah.

BACA JUGA: Sedekah Laut Tambaklorok Semarang Diikuti 400 Kapal, Agustina: Investasi Langit Supaya Laut Sayang Kita

Hal berbeda ԁitemukan di kawasan pesisir Tambak Lorok. Ari mengatakan masyarakat pesisir memiliki karakter bertahan hidup yang lebih kuat karena setiap hari harus menghadapi kondisi lingkungan yang keras.

“Di Tambak Lorok kami menemukan banyak rob. Jadi cara bertahan hidup mereka pasti berbeda dengan masyarakat gunung,” katanya.

Kondisi rob yang terus datang membuat warga pesisir terbiasa hidup dalam ketidakpastian. Mereka harus terus menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan perubahan air laut dan lingkungan sekitar.

Situasi itu, menurut Ari, ikut memengaruhi cara masyarakat pesisir membangun budaya dan kesenian mereka.

“Orang pesisir itu bukan keras sifatnya, tapi lebih keras dalam menghadapi hidup, kaya tahan banting karena kondisi lingkungannya memang berat,” jelasnya.

Seni Jadi Cermin Kehidupan Warga

Festival GULA tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat melalui metode Arts-Based Research atau riset berbasis seni.

Dalam proses residensi, para seniman tinggal langsung bersama warga dan memiliki keluarga asuh agar bisa memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat.

Mereka mengamati cara warga berinteraksi, menjaga tradisi, memanfaatkan ruang publik, hingga membaca bagaimana lingkungan membentuk karakter sosial masyarakat.

“Yang kami tangkap itu bukan hanya keseniannya, tapi bagaimana mereka hidup sehari-hari,” ujar Ari.

Di kawasan pegunungan, ruang publik ԁimanfaatkan secara sederhana namun hidup. Halaman rumah warga hingga lapangan desa menjadi tempat berkumpul dan menggelar aktivitas budaya bersama.

“Kalau di desa itu ada halaman rumah luas ya ԁipakai bersama. Ada lapangan kosong ya jadi ruang pertunjukan,” katanya.

Sementara di kawasan pesisir, masyarakat membangun solidaritas melalui kehidupan kampung yang saling bergantung dalam menghadapi perubahan lingkungan.

BACA JUGA: Solar Rp30 Ribu Bikin Nelayan Pantura Mogok Melaut, DKP Jateng: Produksi Turun, Harga Ikan Bisa Naik

Menariknya, Festival GULA juga menemukan bahwa masyarakat kota ternyata masih menyimpan kerinduan terhadap budaya tradisional yang tumbuh di masyarakat gunung maupun pesisir.

Ari mencontohkan permainan tradisional seperti gangsing yang kini mulai sulit ԁitemukan di perkotaan.

“Kami menemukan bahwa orang kota sebenarnya rindu suasana masa kecil, permainan tradisional, dan kesenian rakyat,” ujarnya.

Kerinduan itu menjadi alasan Festival GULA mempertemukan budaya gunung dan laut di kawasan perkotaan melalui Sanggar Klub Merby Semarang.

Di ruang itu, masyarakat ԁiajak melihat kembali bagaimana budaya tumbuh dari kehidupan sederhana warga dan bagaimana tradisi bisa tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Para pengunjung dapat menikmati Festival GULA dan mengenal perbedaan kehidupan masyarakat di daerah gunung dan laut di Tan Art Space Papandayan Kota Semarang hingga 14 Mei 2026 secara gratis. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp