Ia menilai keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan modal besar yang harus di jaga bersama agar tidak berubah menjadi sumber konflik.
“Kita hidup dalam bangsa yang terdiri dari berbagai agama, budaya, dan latar belakang. Karena itu, nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya masyarakat hafalkan. Tetapi harus terwujud dalam tindakan nyata agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis,” ungkapnya.
Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren Jadi Perhatian
Selain membahas toleransi dan persatuan, forum tersebut juga menyinggung maraknya kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum di lingkungan pondok pesantren. Isu tersebut menjadi perhatian karena dinilai berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan keagamaan.
Gus Huda mengaku prihatin dengan berbagai kasus yang muncul. Namun ia menegaskan bahwa tindakan oknum tidak dapat jadi dasar untuk menghakimi seluruh pesantren di Indonesia.
“Sangat saya sayangkan ketika ada oknum yang selama ini menyampaikan ajaran agama dan kebaikan kepada masyarakat. Tetapi justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai yang di ajarkannya,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren sejati merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama berdasarkan sanad keilmuan yang jelas, kitab-kitab yang dapat dipertanggungjawabkan, serta pembentukan akhlak yang kuat.
Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan pesantren agar kasus serupa tidak kembali terulang.
“Pengawasan yang baik sangat penting. Tujuannya bukan hanya melindungi santri, tetapi juga menjaga marwah pesantren yang selama ini telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan dan pembentukan karakter masyarakat,” jelasnya.
Dialog Jadi Kunci Menjaga Persatuan
Bagi Gus Huda, keberadaan Forum SEMAR menjadi bukti bahwa dialog masih menjadi salah satu cara paling efektif untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Melalui forum tersebut, berbagai isu sosial, keagamaan, hingga kebangsaan dapat di bahas secara terbuka tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap perbedaan pendapat.
“Kalau ruang-ruang dialog seperti SEMAR terus hidup, masyarakat akan semakin terbiasa untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Di situlah nilai-nilai Pancasila benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)





