SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Lama Semarang menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak direkomendasikan orang. Bahkan tiap tahunnya, pemerintah Kota Semarang mengklaim ribuan wisatawan memadati kawasan tersebut.
Meski begitu, bagi Rofiq Ahmad seorang pemandu wisata, Kota Lama masih memiliki banyak kekurangan dari segi aktivitas pariwisata. Hal tersebut pula yang menginisiasi Rofiq bersama teman-teman sesama pemandu wisata untuk menjadikan wayang suket sebagai aktivitas wisata di Kota Lama sejak tahun 2017 lalu.
“Saya melihat bahwa di Kota Lama tidak ada atraksi yang bisa dilakukan bersama wisatawan, dari situ kepikiran menawarkan wayang suket sebagai salah satu paket wisata yang bisa diajarkan. Juga di situ ada interaksi antara pemandu wisata dengan pengunjung, kita belajar membuat wayang suket dan nanti hasilnya bisa dibawa pulang oleh pengunjung,” jelas Rofiq ketika beritajateng.tv temui di Pasar Klitikan, Senin 30 Oktober 2023.
Rofiq mengaku ide tersebut muncul setelah ia menjadi pemandu wisata selama empat tahun. Ia yang harus membawa tamu-tamunya berkeliling Kota Lama seringkali merasa bingung.
BACA JUGA: 6 Daya Tarik Wisata Kota Lama Semarang, Nikmati View Menarik dengan Tiket Masuk Gratis
Saat itu, wisatawan Kota Lama hanya bisa berkeliling melihat-lihat gedung tua sembari berfoto. Berbeda dengan Kampung Batik yang menawarkan aktivitas belajar membatik.
Ia yang kebetulan memiliki keterampilan dalam membuat wayang suket lantas berinisiatif menjadikan wayang suket sebagai paket wisata. Nantinya, setiap sesi hanya berlangsung selama 15 hingga 20 menit.
“Yang saya ajarkan ini teknik sederhana karena saya menganggap bahwa orang kalau belajar yang ribet berjam-jam itu enggak punya waktu, dari situ nanti justru enggak berkembang. Dengan teknik sederhana nanti bisa berkembang menjadi bentuk macam-macam,” imbuhnya.
Wayang Suket menjadi ciri khas Kota Semarang
Di sisi lain, Rofiq mengakui bahwa sejarah wayang suket tidak dekat dengan Kota Semarang. Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa wayang suket berasal dari kebudayaan Purbalingga.
Meski begitu, hal tersebut tak lantas mengurangi niat Rofiq untuk menghidupkan Kota Lama. Ia lalu berusaha untuk membuat wayang suket khas Semarang sendiri.
“Asalnya dari mana itu tumpang tindih, yang jelas itu dari Jawa Tengah. Dan yang jelas wayang suket tumbuh dari bawah. Jadi bisa dikatakan di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing karena itu berkembang di setiap daerah yang berbeda,” ujarnya.
Selain menjadi paket wisata, Rofiq juga menjual wayang suketnya secara terpisah. Harganya ia bandrol mulai dari Rp25 ribu hingga Rp40 ribu untuk satu karakter wayang, tergantung tingkat kesulitan.(*)
Editor: Farah Nazila





