Meski penanda fisik itu sudah berubah, memori kolektif masyarakat masih tetap hidup. Cerita-cerita inilah yang menjadi fondasi utama penyelenggaraan Grebeg Subali.
Kurator Grebeg Subali 2026, Tri Subekso, mengatakan tema “Ngeling, Ngilo, Nginguk” terpilih sebagai cara membaca hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
“Krapyak memiliki banyak jejak sejarah yang penting untuk kita ingat. Ada nama tempat, ruang, tradisi, dan pengalaman masyarakat yang secara fisik mungkin telah berubah, tetapi memorinya masih hidup,” ujar Tri.
Menurutnya, menggali sejarah bukan berarti terjebak dalam nostalgia. Masa lalu justru harus menjadi pijakan untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya bernostalgia. Masa lalu harus menjadi cermin untuk memahami kondisi hari ini dan menentukan arah kampung ke depan. Karena itu, seni, diskusi, pameran, workshop, hingga kirab budaya menjadi bagian dari proses tersebut,” jelasnya.
Kirab dan Lentera Hidupkan Memori Kampung
Selama tiga hari, Grebeg Subali akan menghadirkan berbagai kegiatan seni dan budaya. Hari pertama di awali dengan prosesi Kalangwan Ibu Pertiwi. Yakni, berjalan bersama mengelilingi kampung sambil membawa lentera dan melantunkan Ketawang Ibu Pertiwi karya Ki Nartosabdo.
Kegiatan berlanjut dengan pemasangan Lampu Teng-Teng, pembukaan pameran, pertunjukan Teater GEMA. Serta diskusi budaya bertajuk “Dudah Krapyak: Dari Pesisir, Perkampungan, hingga Lahirnya Perumnas”.
Pada hari kedua terlaksana workshop Wayang Suket dan pertunjukan kesenian rakyat. Sementara puncak acara berlangsung pada Minggu (27/9) melalui Kirab Budaya yang melintasi Jalan Subali Raya hingga Jalan Hanoman Raya.
Kirab akan menghadirkan Pataka Grebeg Subali, tokoh wayang wanara, gunungan, kesenian tradisional. Serta berbagai simbol yang merepresentasikan sejarah dan memori Kampung Krapyak. (*)





