SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerjasama dengan Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Pelatihan Duta Ketahanan Mental di Era Digital (Tameng). Acara berlangsung di Hotel Grasia Semarang, Selasa 20 Juni 2023.
Kegiatan yang diikuti oleh Forum Anak dan Ketua OSIS SMA/SMK se-Kota Semarang itu dibuka oleh Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.
BACA JUGA: Dinas Pendidikan Siap Gunakan Kurikulum Merdeka Pasca Dua Tahun Percobaan
Mbak Ita sapaan akrabnya, mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi upaya pemerintah untuk menjaga mental anak-anak muda dalam menghadapi kemajuan teknologi.
“Karena sekarang dengan digitalisasi ini semua bisa mengakses, baik yang negatif dan positif. Anak-anak ini adalah calon pimpinan masa depan. Kegiatan ini yang kita perlukan agar anak-anak menjadi satu pionir, menjadi garda terdepan,” jelas Ita.
Ita menegaskan, kemajuan digital yang terjadi saat ini tak jarang menimbulkan kerugian, baik bagi anak-anak, orang tua, maupun lembaga sekitar. Selain itu, ia juga menyoroti kasus perundungan yang marak terjadi melalui media sosial.
“Sehingga ini perlu untuk bagaimana mereka ini bisa menyaring, bagaimana juga bisa mengedukasi teman sekelilingnya. Ini yang perlu karena sekarang dengan segala digitalisasi apapun bisa terjadi,” lanjutnya.
Dinas Pendidikan Kota Semarang soroti dampak buruk perkembangan teknologi
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bambang Pramusinto menambahkan, pelatihan Duta Ketahanan Mental di Era Digital tersebut penting. Sebab berdasarkan data, sebanyak 98 persen pengguna internet berasal dari kalangan remaja. Oleh karena itu, pelatihan mental bagi remaja sangat diperlukan untuk menghadapi kemajuan digital tersebut.
BACA JUGA: Ketua DPRD Jateng Sumanto: Pemerintah Harus Bisa Berikan Pendidikan Terbaik ke Warga Negara
“Negara kita itu negara yang terbuka, jadi keterbukaan informasi itu menjadi keniscayaan, jadi mau nggak mau kita harus menyikapi itu. Tapi harus menyikapinya dengan hal-hal yang positif. Salah satunya adalah dengan melatih mental remaja,” ujar Bambang.
Ia juga berharap, pelaksanaan kegiatan ini dapat berguna sebagai langkah awal membimbing remaja dalam memanfaatkan perkembangan teknologi secara positif.
“Karena kalau tidak kita monitor sejak awal, yang kita khawatirkan justru dampak buruk yang bisa menimpa remaja dengan perkembangan teknologi tersebut. Tapi kalau sejak awal kita kawal, melalui koordinator-koordinator pemuda, OSIS, dan Forum Anak, bukan tidak mungkin nanti akan menjadi budaya baru yang positif,” imbuhnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





