BLORA, beritajateng.tv— Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus keracunan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di Kabupaten Blora beberapa waktu lalu sudah keluar.
Akan tetapi penyebab ratusan siswa keracunan MBG dari olahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2, Kabupaten Blora, hasilnya berbeda. Hasil laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Blora dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) punya versi masing-masing.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora, Nur Betsia Bertawati, mengatakan, pemeriksaan di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Blora menemukan kandungan Escherichia coli (E. coli) pada air sumur yang melebihi ambang batas.
BACA JUGA: Usai 216 Siswa Keracunan MBG, SPPG Sukorejo 2 Blora Akhirnya Ditutup Permanen
Sementara pemeriksaan sampel makanan di laboratorium Dinkes Provinsi Jateng, menemukan Bacillus cereus pada menu kuah sop dan ayam woku.
“Lab di dua tempat. Labkesda, pemeriksaan air sumur ada temuan E. coli yang melebihi ambang batas dan pemeriksaan air minum hasil normal. Laboratorium provinsi, menyatakan pemeriksaan menu makanan ada penemuan Bacillus cereus pada kuah sop dan ayam woku,” kata Nur Betsia, Jumat 25 September 2026.
Dua Bakteri Berbeda dalam Sampel Makanan
Nur Betsia merincikan, dari laboratorium Dinkes Provinsi Jateng, mendapati ada dua jenis bakteri yang dari sampel makanan sesuai hasil laboratorium. Sampel makanan yang mendapat pemeriksaan meliputi nasi, kuah sop, rebusan brokoli, jagung, tempe, serta ayam woku kemangi.
Pada sampel kuah sop, hasil pemeriksaan menunjukkan Bacillus cereus negatif. Hasil positif pada bakteri Bacillus sp. Hal serupa ada pada sampel ayam woku kemangi.
BACA JUGA: 300 Orang Lebih jadi Korban Keracunan MBG di Batang, Dinkes Bantah Ada Pasien Meninggal Dunia
Sementara hasil laboratorium di Blora menyatakan, bakteri Bacillus cereus terdapat pada kuah sop dan ayam woku.
Nur Betsia bilang, Bacillus cereus merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Gejala yang dapat muncul antara lain diare, mual, muntah dan sakit perut.
Air Sumur Mengandung Bakteri E. coli
Selain sampel makanan, pemeriksaan juga terhadap sumber air yang berada di dapur SPPG Sukorejo 2.
Berdasarkan data pemeriksaan bakteriologis, air sumur mengandung E. coli sebanyak 200. Sementara air yang untuk memasak memiliki kandungan E. coli 0 atau negatif.
BACA JUGA: Ratusan Siswa Keracunan MBG di Blora, BGN Pecat Kepala SPPG Sukorejo 2
Nur Bestia mengatakan, air sumur tersebut tidak untuk memasak, melainkan untuk mencuci. Sedangkan air untuk memasak memakai air minum isi ulang.
“Air sumur untuk mencuci, yang masak air ulang/minum,” kata Nur Betsia.
Penyebab Keracunan Berbagai Faktor
Nur Betsia mengatakan, keberadaan E. coli tetap dapat menjadi salah satu faktor keracunan makanan. Tentunya apabila proses pengolahan makanan tidak sesuai prosedur.
Dia mengatakan, dugaan penyebab kejadian tersebut tidak hanya berkaitan dengan satu faktor saja.
Dia bilang, temuan E. coli pada air sumur dan bakteri dari kelompok Bacillus pada sampel makanan, bisa menjadi penyebab keracunan.
Apalagi ada pengaruhi proses penyimpanan, pengolahan, pemorsian hingga distribusi makanan. (*)
Editor: Diaz A Abidin





