Politik

Heboh Teror Kiriman Bangkai ke Tempo, Pengamat Hersubeno: Tanam Ketakutan Agar Tak Berani Kritik

×

Heboh Teror Kiriman Bangkai ke Tempo, Pengamat Hersubeno: Tanam Ketakutan Agar Tak Berani Kritik

Sebarkan artikel ini
Defisit APBN | Abolisi Tom Lembong | Joko Widodo | Jokowi PSI | Teror Tempo
Pengamat politik Hersubeno Arief. (Foto: YouTube/Hersubeno Point)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kantor media Tempo kembali mendapatkan ancaman. Setelah sebelumnya menerima paket kepala babi, kini teror kembali mendatangi Tempo melalui enam bangkai tikus yang kepalanya telah terpenggal.

Seorang petugas kebersihan menemukan paket tersebut pada Sabtu, 22 Maret 2025, di area parkir kantor Tempo, Palmerah Barat, Jakarta Selatan.

Sang petugas kebersihan awalnya mengira kotak kardus berbungkus kertas kado motif bunga mawar itu berisi mi instan. Namun, setelah terbuka, isinya sangat mengejutkan.

Bungkusan tersebut petugas temukan pada dini hari sekitar pukul 02.11 WIB. Dugaan sementara, paket itu dilempar oleh orang tak dikenal dari luar pagar kantor Tempo.

BACA JUGA: Tempo Dapat Teror Kiriman Bangkai, Komite Keselamatan Jurnalis: Negara Tak Boleh Langgengkan Teror

Saat dilempar, kotak tersebut sempat mengenai mobil yang terparkir sebelum jatuh ke aspal. Ada bekas goresan di mobil akibat lemparan tersebut.

Teror ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, pada 19 Maret 2025, seorang wartawan Tempo, Fransiska Christi Rosana atau Cica, menerima paket kepala babi yang dikirim melalui kurir.

Serangan terhadap Tempo juga pernah terjadi pada tahun lalu, saat kaca mobil wartawan Tempo, Hussein Abri Dongoran, orang asing pecahkan.

Pengamat politik Hersubeno Arief dalam kanal YouTube-nya, Hersubeno Point, pada Minggu, 23 Maret 2025, menyebut bahwa teror ini memiliki makna simbolis.

BACA JUGA: Usai Kepala Babi, Tempo Dapat Kiriman Enam Bangkai Tikus

“Pemilihan kepala babi dan tikus bukan tanpa alasan. Ini pesan yang jelas tertuju kepada media agar tidak berani mengkritik,” kata Hersubeno.

Selain itu, ia menganggap serangan teror seperti ini bertujuan untuk menanamkan ketakutan.

“Bukan hanya pada Tempo, tetapi juga pada komunitas pers secara keseluruhan,” imbuhnya.

Hersubeno juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap sikap pemerintah yang belum bertindak tegas.

“Jika ini terus dibiarkan, maka ke depan media akan semakin sulit menjalankan tugasnya sebagai pengawas kekuasaan. Negara harus menunjukkan keberpihakannya pada kebebasan pers,” katanya. (*)