“Liriknya tentang menolak tenggelam dan menjaga mangrove,” kata Umiati.
Lagu itu lahir dari pengalaman sehari-hari masyarakat yang hidup berdampingan dengan rob dan ancaman hilangnya ruang hidup di kawasan pesisir.
Menurut Umiati, salah satu penyebab memburuknya kondisi rob di wilayahnya adalah berkurangnya kawasan mangrove yang selama ini berfungsi sebagai pelindung alami pantai.
Ia mengingat bagaimana mangrove yang dahulu tumbuh di sepanjang bibir pantai banyak ditebang dan berangsur hilang.
“Karena mangrove sudah tidak ada, air masuknya tidak pelan-pelan lagi. Mili [aliran] air langsung deras sekali,” ujarnya.
Sebagai warga pesisir, Umiati tidak tinggal diam. Sejak 2014, ia bersama kelompok perempuan nelayan aktif menanam mangrove di kawasan pantai Dukuh Bandengan.
Namun upaya itu tidak selalu berhasil. Gelombang dan arus yang semakin kuat kerap menghanyutkan bibit yang baru ditanam.
“Tahun 2014 saya menanam di bibir pantai, tetapi tidak jadi semua karena airnya deras sekali menerjang bibit-bibit itu,” katanya.
BACA JUGA: Eksekusi Rumah Janda di Mranggen Demak Berlangsung Dramatis, Kuasa Hukum Minta Mediasi
Ia memperkirakan dalam hampir satu dekade terakhir, sekitar 10 hingga 15 hektare kawasan mangrove di sekitar desanya telah hilang akibat abrasi dan perubahan kondisi pesisir.
Perempuan Nelayan Siapkan Penanaman Mangrove Baru
Meski berkali-kali menghadapi kegagalan, semangat kelompok perempuan nelayan untuk memulihkan pesisir tidak surut. Bersama KIARA, mahasiswa dan sejumlah organisasi lingkungan, mereka berencana kembali melakukan penanaman mangrove pada pertengahan hingga akhir Juli mendatang.
“Kami ingin menanam lagi dan berharap mendapat dukungan dari banyak pihak supaya benar-benar bisa terwujud,” kata Umiati.
Bagi dirinya dan warga pesisir lainnya, mangrove bukan sekadar tanaman, tetapi benteng alami yang selama puluhan tahun melindungi kampung mereka dari gelombang laut.
Ketika ditanya mengenai rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jawa, Umiati memiliki pandangan yang tegas.
Menurutnya, kebutuhan utama masyarakat pesisir saat ini adalah pemulihan ekosistem mangrove, bukan sekadar pembangunan infrastruktur besar.





