SEMARANG, beritajateng.tv – Bagi Umiati, rob bukan lagi peristiwa musiman. Air laut yang menggenangi jalan dan permukiman sudah menjadi bagian dari keseharian warga pesisir Demak selama bertahun-tahun. Bahkan saat musim kemarau, genangan air laut tetap datang setiap hari dan menghambat aktivitas masyarakat.
Perempuan berusia 43 tahun yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari itu mengatakan rob telah mengubah kehidupan warga di Dukuh Bandengan, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.
“Kalau pagi kami mau mengantar anak sekolah susah karena terhalang rob. Jalannya licin, banyak motor terpeleset dan mogok,” kata Umiati saat mengikuti aksi peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia di Semarang pada Senin, 8 Juni 2026.
BACA JUGA: Polres Salatiga Ungkap Pengedar Sabu Lintas Daerah Jaringan Demak
Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak sekitar tahun 2014. Namun hingga kini warga merasa belum mendapatkan solusi yang benar-benar menjawab persoalan yang mereka hadapi.
Rob Hambat Aktivitas dan Ekonomi Warga
Sebagai perempuan nelayan yang juga menjalankan usaha produksi terasi, Umiati merasakan langsung dampak rob terhadap perekonomian keluarga.
Ketika hendak berbelanja bahan kebutuhan maupun mengirim hasil produksi kepada pembeli, akses jalan yang terendam sering menjadi kendala.
“Kami mau usaha, mau belanja, mau kirim terasi ke pembeli sering terhalang akses karena rob,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, saat kendaraan tidak bisa melintas, warga terpaksa berjalan kaki menerobos genangan air laut.
“Kalau motor mogok ya jalan kaki. Rob itu setiap hari, meskipun sekarang musim kemarau,” katanya.
Tak hanya di Dukuh Bandengan, Umiati menyebut hampir seluruh wilayah pesisir Demak merasakan persoalan serupa.
“Di Demak hampir semua kena. Tidak ada yang terkecuali,” tuturnya.
Menyuarakan Perlawanan Lewat Lagu Rob
Di tengah kondisi tersebut, para perempuan nelayan memilih menyuarakan keresahan mereka dengan cara yang berbeda. Bersama sejumlah komunitas dan jaringan masyarakat sipil, mereka menciptakan lagu bertema rob yang menceritakan kehidupan warga pesisir yang terus berjuang menghadapi genangan air laut.
“Liriknya tentang menolak tenggelam dan menjaga mangrove,” kata Umiati.
Lagu itu lahir dari pengalaman sehari-hari masyarakat yang hidup berdampingan dengan rob dan ancaman hilangnya ruang hidup di kawasan pesisir.
Menurut Umiati, salah satu penyebab memburuknya kondisi rob di wilayahnya adalah berkurangnya kawasan mangrove yang selama ini berfungsi sebagai pelindung alami pantai.
Ia mengingat bagaimana mangrove yang dahulu tumbuh di sepanjang bibir pantai banyak ditebang dan berangsur hilang.
“Karena mangrove sudah tidak ada, air masuknya tidak pelan-pelan lagi. Mili [aliran] air langsung deras sekali,” ujarnya.
Sebagai warga pesisir, Umiati tidak tinggal diam. Sejak 2014, ia bersama kelompok perempuan nelayan aktif menanam mangrove di kawasan pantai Dukuh Bandengan.
Namun upaya itu tidak selalu berhasil. Gelombang dan arus yang semakin kuat kerap menghanyutkan bibit yang baru ditanam.
“Tahun 2014 saya menanam di bibir pantai, tetapi tidak jadi semua karena airnya deras sekali menerjang bibit-bibit itu,” katanya.
BACA JUGA: Eksekusi Rumah Janda di Mranggen Demak Berlangsung Dramatis, Kuasa Hukum Minta Mediasi
Ia memperkirakan dalam hampir satu dekade terakhir, sekitar 10 hingga 15 hektare kawasan mangrove di sekitar desanya telah hilang akibat abrasi dan perubahan kondisi pesisir.
Perempuan Nelayan Siapkan Penanaman Mangrove Baru
Meski berkali-kali menghadapi kegagalan, semangat kelompok perempuan nelayan untuk memulihkan pesisir tidak surut. Bersama KIARA, mahasiswa dan sejumlah organisasi lingkungan, mereka berencana kembali melakukan penanaman mangrove pada pertengahan hingga akhir Juli mendatang.
“Kami ingin menanam lagi dan berharap mendapat dukungan dari banyak pihak supaya benar-benar bisa terwujud,” kata Umiati.
Bagi dirinya dan warga pesisir lainnya, mangrove bukan sekadar tanaman, tetapi benteng alami yang selama puluhan tahun melindungi kampung mereka dari gelombang laut.
Ketika ditanya mengenai rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di Pantai Utara Jawa, Umiati memiliki pandangan yang tegas.
Menurutnya, kebutuhan utama masyarakat pesisir saat ini adalah pemulihan ekosistem mangrove, bukan sekadar pembangunan infrastruktur besar.
“Mangrove yang kami butuhkan. Dari zaman nenek moyang kami, mangrove yang melindungi kampung. Bibit mangrove bisa membantu menanggulangi rob supaya rumah-rumah kami tidak terus terkena air laut,” ujarnya. (*)
Editor: Farah Nazila





