SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil, investasi di Jawa Tengah tak sepenuhnya berdampak. Investor asal India justru telah memulai pembangunan pabrik farmasi di Kota Semarang, meski sebagian investor dari negara lain masih memilih menunggu perkembangan kondisi global.
Pabrik tersebut ԁibangun di Kawasan Industri Wijaya Kusuma Kota Semarang dan telah masuk tahap groundbreaking. Masuknya investasi ini menjadi salah satu sinyal bahwa Jawa Tengah masih menarik di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Namun, di sisi lain dinamika global tetap memengaruhi keputusan sebagian investor. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menyebut saat ini terdapat dua kecenderungan di kalangan pelaku usaha, yakni yang tetap melanjutkan investasi dan yang masih menahan diri.
“Iya, kami melihat memang ada yang tanda kutip wait and see. Tapi ada juga yang kemudian optimistis untuk melakukan realisasi investasi,” ujar Sakina dalam konferensi pers di kantornya, Selasa, 5 Mei 2026 sore.
BACA JUGA: Dampak Global Konflik Israel-AS vs Iran, Muhammadiyah Minta Umat Islam Perkuat Solidaritas
Ia menjelaskan, sikap wait and see tersebut muncul seiring ketidakpastian geopolitik global yang berdampak langsung pada rantai pasok industri. Sakina menuturkan, gangguan ԁistribusi bahan baku hingga risiko dalam proses pengiriman menjadi pertimbangan utama investor sebelum mengambil keputusan.
“Keraguannya karena geopolitik itu mengganggu supply chain dari bahan baku. Kemudian juga ketika produksi terkendala, termasuk saat pengiriman harus melewati wilayah yang kondisinya masih sengit,” jelasnya.
Selain faktor rantai pasok, kata dia, kondisi global juga berpengaruh pada sektor ekspor Jawa Tengah yang cukup bergantung pada pasar luar negeri. Sakina menyebut, hampir setengah ekspor Jawa Tengah mengarah ke Amerika Serikat.
“Untuk Jawa Tengah, ekspornya mayoritas 47 persen ke Amerika Serikat, sektornya garmen, baik rajut, nonrajut, dan alas kaki,” ungkap Sakina.
Ketergantungan tersebut membuat pelaku usaha, khususnya yang berorientasi ekspor, lebih berhati-hati dalam berekspansi.
Sejumlah Investor Tahan Komitmen Invesyasi di Tengah Situasi Geopolitik Global
Beberapa investor bahkan ԁisebut masih menahan komitmen investasi mereka. “Yang ragu-ragu itu ada, terutama dari negara seperti Uni Emirat Arab, kemudian juga dari China,” katanya.
Meski demikian, Sakina menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada investor yang secara resmi membatalkan rencana investasi di Jawa Tengah. Kondisi yang terjadi lebih pada penundaan atau kehati-hatian, bukan penarikan ԁiri.
“Belum ada yang mundur. Kami masih terus melakukan identifikasi kepeminatan atau letter of intent dari para pelaku usaha,” tegasnya.
Di tengah kondisi tersebut, realisasi investasi tetap berjalan. Selain proyek dari India di Kota Semarang, investasi lain juga mulai bergerak, salah satunya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal.
“Sabtu kemarin sudah ada groundbreaking dari PMA di KEK Kendal,” ujar Sakina.
Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng terus berupaya menjaga minat investor dengan memastikan kemudahan proses investasi, mulai dari perizinan hingga pendampingan di lapangan.
“Kami berusaha meyakinkan bahwa Jawa Tengah ini punya competitiveness, punya keunggulan, dan kami dampingi proses perizinannya,” jelasnya.
BACA JUGA: Ekspor Garmen ke AS Disebut Tetap Stabil, Konflik Global Hanya Berdampak pada Tarif
Upaya tersebut juga ԁilakukan dengan mendorong komitmen awal dari investor melalui mekanisme letter of intent yang kemudian ԁiarahkan menjadi realisasi investasi.
Selain itu, dalam waktu dekat juga akan ada penandatanganan sejumlah komitmen investasi baru dari investor dalam dan luar negeri.
“Pada kegiatan CCIPF tanggal 11 nanti juga akan ada beberapa signing investasi, baik PMA maupun PMDN,” imbuhnya.
Sakina menekankan, keberlanjutan investasi menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda.
“Kami yakin multiplier effect dari investasi ini luar biasa, mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran, hingga menekan kemiskinan,” tandasnya.
Sebagai informasi, realisasi investasi di Jawa Tengah pada Triwulan I 2026 tercatat mencapai Rp23,02 triliun atau sekitar 23,23 persen dari target tahunan sebesar Rp99,09 triliun. Angka tersebut menunjukkan aktivitas investasi masih berjalan, meski di tengah tekanan kondisi global. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





