Jejak perdagangan masa lampau itu kini menemukan wujud barunya lewat cita rasa. Salah satunya hadir di Kedai Bangla Java, rumah makan khas India yang berlokasi di Jalan Klipang Raya, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Semarang.
Sang pemilik, MD Monirul Islam, lahir di Bangladesh dari keluarga berdarah West Bengal, India. Sejak muda ia sudah merantau ke Ipoh, Malaysia, sebelum akhirnya menikah dengan perempuan asal Semarang, Rini Arina Prapti, dan membuka usaha kuliner di kota istrinya.
“Masala itu jiwa masakan India, dari situ aroma dan rasanya keluar. Tapi tentu kami menyesuaikan, supaya lidah orang Jawa Tengah juga bisa menerima. Kalau tamunya orang lokal, bumbu dibuat lebih ringan. Kalau tamunya orang Timur Tengah atau India, tetap kami sajikan yang otentik,” ujar Monirul saat beritajateng.tv jumpai langsung di kedainya, Rabu, 17 September 2025.
Di kedainya, pengunjung bisa mencicipi nasi biryani ayam atau sapi, kari ikan, kari ayam, hingga roti canai dan paratha. Masakan tak disajikan dengan porsi besar seperti di India, tetapi lebih sederhana dan ramah di kantong.
Meski begitu, kekuatan rasa tetap terjaga. Sebagian besar rempah ia tumbuk sendiri, menjaga kesegaran yang tidak tergantikan oleh bumbu instan.
BACA JUGA: Peliputan Manusiawi di Tengah Demonstrasi: Jurnalis India Tekankan Pentingnya Kebenaran dan Keberanian
“Intinya kami ingin orang Semarang bisa merasakan masakan India tanpa harus jauh-jauh ke kota besar lain,” tambahnya.
Bangla Java memang terletak jauh dari pusat kota. Namun pelanggan datang silih berganti, dari warga sekitar hingga ekspatriat India yang rindu cita rasa kampung halaman. Bagi mereka, sepiring biryani hangat dan segelas masala tea mampu menghapus jarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran.
“Kalau orang India datang ke sini, mereka bilang rasanya seperti di rumah. Itu yang bikin kami semangat masak setiap hari,” ungkap Monirul.





