BACA JUGA: Representasi Perempuan dalam Politik Minim, Jurnalis Asal India Dorong Jurnalisme Peka Gender
“Di Indonesia, perbedaan aliran dalam Hinduisme itu disatukan. Tapi kita tetap akomodatif terhadap saudara-saudara kita dari India yang ingin menjalankan tradisinya,” lanjut Nengah.
Pura Agung Girinatha pun menjadi bukti bahwa spiritualitas mampu menjembatani perbedaan. Saat umat Hindu Nusantara menyalakan dupa dengan iringan kidung Jawa-Bali, di sisi lain, umat Hindu India melantunkan doa dan melaksanakan puja di altar Ganesha.
Nengah menuturkan, ruang ibadah itu tetap hidup, meski suara, bahasa, dan gestur yang umatnya lantunkan berbeda.
“Kami PHDI Semarang mempersilakan umat Hindu India melaksanakan perayaan besar seperti Ganesha Chaturthi atau Diwali, biasanya saya juga hadir menyaksikan. Yang penting mereka menjalankan tattwa Hindu sesuai ajaran,” tambah Nengah.
Harmoni itu membuat Pura Agung Girinatha tak sekadar menjadi tempat sembahyang, tetapi juga simbol perjumpaan lintas budaya. Semarang, kota pelabuhan yang dulu menerima pedagang dari Gujarat, kini juga merangkul spiritualitas India yang datang bersama para ekspatriat.
Jauh dari tanah kelahiran, umat Hindu India tetap bisa menjalankan puja dengan khidmat, menyalakan wewangian, menabuh lonceng kecil, hingga melantunkan mantra dengan lantang. Di Pura Agung Girinatha, perbedaan bukan sekat, melainkan jembatan.
BACA JUGA: Sajian Bubur India di Masjid Jami Pekojan, Tradisi Turun-temurun yang Terus Lestari
Tiga kisah tersebut, dari jalur dagang, masala dalam masakan, hingga ruang spiritual, menunjukkan Semarang bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan ruang perjumpaan antarbudaya.
Jejak India hadir dalam lapisan kecil yang tetap hidup, dari daerah Pekojan yang lahir karena perdagangan, sedapnya masala yang ditumbuk di dapur Klipang, hingga puja yang mewarnai altar Ganesha di Pura Agung Girinatha.
Bagi jurnalis, kisah semacam ini adalah inti sebuah feature. Shoeb Kagda, dalam sesi Voices of Tomorrow: Elements of Strong Feature Writing pada Minggu, 14 September 2025, menekankan bahwa feature bukan sekadar memaparkan fakta, melainkan menghubungkan titik-titik peristiwa, menjelaskan dampak, dan menyalakan emosi pembaca.





