Feature

Jejak Kecil India di Semarang: Dari Jalur Dagang Gujarat, Masala dalam Masakan, hingga Harmoni Puja di Pura

×

Jejak Kecil India di Semarang: Dari Jalur Dagang Gujarat, Masala dalam Masakan, hingga Harmoni Puja di Pura

Sebarkan artikel ini
India Semarang
Pemilik Kedai Bangla Java, MD Monirul Islam, membawa roti canai dan sepiring nasi biryani. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Bagi warga Semarang, kedai ini juga jadi ruang perjumpaan. Rasa masala tea yang pedas hangat, roti canai lembut dengan kuah kari pekat, atau aroma nasi biryani yang mengepul membuat banyak lidah lokal jatuh hati. Ada yang sekadar mampir usai bekerja, ada pula yang menjadikannya langganan keluarga.

Jauh dari hiruk-pikuk pusat Kota Semarang, Bangla Java menjadi jembatan kecil antara Semarang dan India. Dari rempah yang ditumbuk dengan tangan, Monirul meracik cerita lintas negara: lahir di Bangladesh, berdarah India, dan kini melekat di Kota Semarang lewat masakannya.

Harmoni Hindu India dan Jawa yang Terwujud di Pura Agung Girinatha Semarang

Tak ada kuil Hindu India di Kota Semarang. Namun, Pura Agung Girinatha, yang berlokasi di Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, menjadi rumah bagi umat Hindu Nusantara sekaligus umat Hindu India yang merantau dan bekerja di kota ini.

Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Nengah Wurta Darmayan, menyebut ada sekitar 500 umat Hindu India di Kota Semarang dan sekitarnya. Nengah menuturkan, sebagian besar dari mereka bekerja di sektor garmen dan tekstil.

Meski membawa tradisi ibadah yang berbeda dengan umat Hindu Nusantara, mereka tetap menemukan ruang untuk bersembahyang bersama.

“Kalau alirannya sama dengan Hindu Nusantara atau Jawa seperti Siwa, mereka sembahyang di dalam pura bersama. Tapi kalau berbeda, seperti Hare Krishna atau yang memuja Ganesha, kami sediakan tempat khusus di area Nista Mandala pura, ada altar dengan arca Ganesha,” ujar Nengah, Rabu, 7 September 2025.

Ia menambahkan, Hindu India dan Nusantara memiliki perbedaan dalam tata cara upacara atau persembahyangannya. Di India, kata Nengah, setiap aliran punya cara sendiri dalam memaknai Tuhan.

“Ada yang memuja Ganesha sebagai lambang kebijaksanaan, ada pula yang mengikuti jalan Krishna lewat aliran Hare Krishna. Sementara di Indonesia, sejak Dang Hyang Nirartha masuk, berbagai perbedaan itu dipersatukan dalam satu pakem besar, yaitu Siwa Siddhanta,” terang Nengah.