UNGARAN, beritajateng.tv – Orderan cemilan di sejumlah UMKM Kampung Tumpi, Dusun Karangbolo, Desa Lerep, Kec. Ungaran Barat, mengalami peningkatan hingga 200 persen menjelang Lebaran, Kamis (6/4/2023).
Menyongsong Lebaran tahun ini menjadi momen yang berkah bagi para pelaku UMKM Kampung Tumpi di dusun tersebut. Dusun Karangbolo memang terkenal sebagai Kampung Tumpi. Mengingat dari 289 kepala keluarga (KK), sebanyak 80 persen warga merupakan pembuat tumpi.
Para UMKM Kampung Tumpi, sesuai nama khas kampung mereka, menjual makanan ringan bernama tumpi atau lebih terkenal sebagai rempeyek.
“Kalau saat ini (jelang Lebaran) memang permintaan melonjak hingga dua kali lipat atau 200 persen dari hari-hari biasa,” ujar Mitwa Amir, Ketua UMKM Kampung Tumpi Karangbolo
Amir sendiri turut memperoduksi tumpi di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat usaha.
Menurut keterangannya, sekali menggoreng sekian adonan tumpi hasilnya bisa mejnjadi seratus hingga dua ratus pak. Hal itu juga tergantung besar-kecilnya kemasan serta permintaan pasar.
Tumpi di Karangbolo pun jenisnya bervariasi. Mulai tumpi kacang hijau, tumpi kacang tanah, keripik bayam, keripik tempe, unthuk yuyu, widaran, keripik pare, dan masih banyak lagi aneka macam keripik.
BACA JUGA: Strategi Bupati Eistianah Pasarkan Produk UMKM Demak
Tak Ada Persaingan di Antara UMKM Kampung Tumpi Karangbolo
Di Dusun Karangbolo terdapat 52 pelaku UMKM. Di antara mereka ridak ada persaingan dalam mengembangkan usaha. Para warga justru saling memberikan support.
Hal tersebut ibaratnya sebuah lilin, kalau satu maka cahayanya kurang terang, tetapi dengan banyak lilin akan bisa mengahasilkan cahaya yang terang. Sehingga, dari situ banyak laron yang mendatangi cahaya tersebut.
“Walaupun kita semua memiliki usaha yang sama, namun semuanya laku karena memiliki pelanggan dan pangsa pasar masing-masing, Mas,” imbuh Amir.
BACA JUGA: [Video] Pelaku UMKM Diminta Urus Label Halal
Pemasaran tumpi ini bahkan sudah mencapai Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, hingga Kalimantan. Selain itu, produk makanan ringan ini juga mereka pasarkan ke pusat oleh-oleh maupun tempat wisata yang ada di Kabupaten Semarang.
“Kalau keluar kota biasanya kita kirim sendiri. Selain hemat, juga untuk meminimalisasi kerusakan pada produk. Biasanya kalau dipaketkan sering rusak dan remuk ketika sampai di lokasi tujuan,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





