SEMARANG, beritajateng.tv – Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang untuk berprestasi di dunia olahraga. Hal itu dibuktikan Adijaya Judo Club Semarang yang secara konsisten membuka ruang latihan dan kompetisi bagi atlet difabel melalui pembinaan judo inklusif bersama National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) Kota Semarang.
Pelatih Adijaya Judo Club, Kho Gunarto, mengatakan bahwa atlet disabilitas netra yang berlatih di klubnya mendapatkan materi yang sama dengan atlet reguler. Perbedaan hanya terletak pada penyesuaian teknis agar latihan tetap aman dan adil.
“Mereka masuk kategori J2, gangguannya hanya visual jarak jauh. Kalau latihan randori kami dekatkan jaraknya. Itu saja bedanya, materinya sama semua,” ujar Kho saat ditemui usai latihan malam belum lama ini.
BACA JUGA: Blokir Ribuan Iklan Judol Tiap Bulan, Diskominfo Jateng: Asal Serangan dari Brazil hingga Amerika
Menurutnya, judo justru termasuk olahraga yang relatif aman bagi atlet disabilitas karena memiliki aturan ketat yang melindungi atlet saat latihan maupun pertandingan.
Tak Perlu Takut Cedera, Judo Sudah Ada Regulasi
Kho mengakui masih banyak penyandang disabilitas yang ragu memulai olahraga bela diri karena khawatir cedera. Padahal, dalam judo terdapat regulasi yang jelas dan penyesuaian dengan kondisi atlet.
“Judo kelihatannya memang keras, banting-bantingan. Tapi sebenarnya aman karena dilindungi aturan. Di NPCI juga sudah ada regulasi yang menyesuaikan kebutuhan atlet,” jelasnya.
BACA JUGA: Judol Dominasi Kejahatan Siber di Jateng 2025, Polda Soroti Premanisme dan Kasus Internal Polri
Ia menegaskan, aturan tersebut membuat atlet merasa nyaman, aman, dan bahagia saat berlatih maupun bertanding.
Untuk atlet NPCI yang diproyeksikan mengikuti kejuaraan, intensitas latihan justru dibuat lebih berat dibandingkan latihan reguler. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari persiapan fisik dan mental.
“Khusus atlet pelatnas atau persiapan kejuaraan NPCI, materinya lebih keras. Karena targetnya jelas, prestasi,” kata Kho.













