Kesehatan

Kasus Campak di Jawa Tengah Capai 1.490 Suspek, Tiga Kabupaten Masuk Kriteria KLB

×

Kasus Campak di Jawa Tengah Capai 1.490 Suspek, Tiga Kabupaten Masuk Kriteria KLB

Sebarkan artikel ini
Campak
Ilustrasi campak. (ant)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus campak kembali meningkat di wilayah Jateng sepanjang awal tahun 2026. Dinas Kesehatan Jawa Tengah mencatat sekitar 1.423 kasus suspek campak sepanjang periode awal tahun ini.

Secara epidemiologis, tiga kabupaten telah memenuhi indikator kejadian luar biasa (KLB) campak. Wilayah tersebut meliputi Cilacap, Klaten, serta Pati.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, menegaskan pentingnya peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penularan campak. Ia menyebut tingkat penularan campak jauh melampaui Covid-19.

“Kalau Covid-19 satu orang menulari lima orang, campak bisa sampai 18 orang. Maka penguatan imunisasi menjadi kunci,” ujarnya.

BACA JUGA: Kasus Suspek Campak Tembus 10 Ribu di Awal 2026, IDAI Ingatkan Imunisasi Anak Cegah KLB

Selain tiga wilayah tersebut, dua daerah lain masuk kategori suspek. Wilayah itu mencakup Brebes serta Kudus. Pemerintah terus memantau perkembangan pada seluruh kabupaten dan kota.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyampaikan total temuan suspek mencapai 1.490 kasus pada triwulan pertama 2026. Lonjakan tertinggi muncul pada Januari dengan 792 kasus. Februari mencatat 441 kasus, sementara Maret turun menjadi 257 kasus.

Pemeriksaan laboratorium telah berlangsung terhadap ratusan sampel. Hasilnya menunjukkan 121 kasus positif campak serta 14 kasus rubella. Sebaran tertinggi berasal dari Kudus, Brebes, serta Banyumas. Untuk kasus positif, Cilacap dan Pati menempati posisi teratas.

Yunita menjelaskan status kejadian luar biasa belum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah daerah. Penetapan memerlukan bukti keterkaitan epidemiologis antar kasus dalam satu lingkungan.

BACA JUGA: Indonesia Nomor 2 Kasus Campak Dunia, IDAI Ungkap Ancaman KLB di Berbagai Daerah

“Belum ditetapkan sebagai KLB. Secara kriteria, kondisi terpenuhi jika ada dua penderita saling berhubungan,” jelasnya.

Penanganan pasien tetap menjadi prioritas utama pada setiap wilayah terdampak. Tenaga medis memberikan terapi berdasarkan gejala yang muncul pada pasien.

“Pengobatan bersifat simptomatis, misalnya demam akan ditangani sesuai kondisi,” ungkap Yunita.

Pemerintah juga memperkuat langkah pencegahan melalui program Outbreak Response Immunization. Program tersebut menyasar anak-anak yang belum menerima imunisasi campak. Langkah ini bertujuan menutup celah kekebalan pada masyarakat. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp