Kesehatan

Kasus DBD Naik 3 Kali Lipat Dibanding Tahun 2023, Dokter Ungkap Gejala Awalnya!

×

Kasus DBD Naik 3 Kali Lipat Dibanding Tahun 2023, Dokter Ungkap Gejala Awalnya!

Sebarkan artikel ini
DBD Jawa Tengah 2025 | nyamuk
Ilustrasi nyamuk berbahaya yang dapat menyebabkan DBD (Foto: Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) baru saja merilis jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) pada awal tahun 2024. Data Kemenkes mencatat sebanyak 62.001 kasus DBD di pekan ke-15 atau awal April 2024, naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Jawa Tengah sendiri menempati provinsi ketiga dengan kasus DBD terbanyak dengan 4.330 kasus. Di bawah Jawa Barat (17.331 kasus) dan Banten (5.877 kasus).

Menanggapi hal tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Sigid Kirana Bintang Bhima menjelaskan, peningkatan kasus DBD sangat terpengaruhi oleh banyaknya nyamuk Aedes aegypti. Terutama di lingkungan masyarakat.

Sigid menyebut bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perkembangbiakkan nyamuk, salah satunya musim. Seperti saat musim hujan di mana banyak genangan air yang kemudian menjadi tempat untuk perkembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti.

BACA JUGA: Video Kasus Demam Berdarah Melonjak di Blora, 9 Meninggal

“DBD memang ada hubungan dengan vektor yang menyebabkan atau menularkan virus, yaitu nyamuk. Jadi memang kalau jumlah nyamuknya meningkat, otomatis jumlah kasusnya juga meningkat,” katanya saat beritajateng.tv hubungi, Sabtu, 20 April 2024.

Gejala DBD

Ia menuturkan, awal tahun 2024 bisa dikatakan menjadi musim rawan DBD karena tingginya intensitas hujan. Sehingga, pada masa seperti ini, dokter ataupun tenaga kesehatan akan lebih berhati-hati dalam memberikan pertolongan pertama pada pasien.

Artinya, kata Sigid, saat ada pasien dengan gejala panas di masa ini, maka dokter akan memasukkan DBD sebagai salah satu diferensial diagnosisnya. Hal tersebut pula yang memungkinkan terjadinya kenaikan jumlah kasus.

“Di awal ketika ada pasien datang dengan keluhan panas, dokter tidak akan menyingkirkan demam berdarah sebagai diferensial diagnosanya sampai ditemukan pemeriksaan lanjutan,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan jika hal tersebut lantaran panas merupakan gejala utama dari DBD. Sehingga, hal yang pertama kali dokter lakukan adalah men-suspect pasien dengan penyakit DBD.

“Panas itu kan banyak ada tifoid, DBD, ispa, flu, dan lainnya. Tapi ketika sedang musim seperti ini, demam berdarah pasti jadi diagnosa paling atas,” tekannya.

Bagaimana efektivitas nyamuk ber-Wolbachia?

Sebelumnya, Kota Semarang termasuk ke dalam pilot project penyebaran nyamuk ber-Wolbachia. Penyebaran nyamuk tersebut berlokasi di dua kecamatan dengan kasus DBD terbanyak, yaitu Kecamatan Banyumanik dan Kecamatan Tembalang.

Kasus DBD di Kecamatan Banyumanik pun kabarnya menunjukkan penurunan pada tahun 2023 lalu. Yaitu 51 kasus DBD periode Januari sampai September 2023. Turun hampir 50 persen dari yang awalnya 98 kasus DBD di periode Januari sampai September 2022.

BACA JUGA: IDI Kota Semarang: Nyamuk Wolbachia Efektif Tekan Angka Demam Berdarah

Meski begitu, Sigid belum bisa berkomentar banyak terkait efektivitas nyamuk ber-Wolbachia dalam mengurangi kasus DBD di Kota Semarang secara luas. Hanya saja, berbekal penelitian di Jogja, nyamuk ber-Wolbachia terbukti ampuh dalam menurunkan kasus DBD.

“Kalau itu saya tidak bisa berkomentar, karena sudah ada penelitian di Jogja selama 10 tahun dan hasilnya cukup signifikan menurunkan jumlah kesakitan dan jumlah kematian DBD di Jogja,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp