Namun demikian, jumlah petani zilenial yang sudah mendapat pelatihan masih sangat kecil daripada total petani di Jawa Tengah.
“Yang sudah kami latih itu sekitar 8.000 orang. Sementara total petani kita hampir 4 juta. Jadi itu baru sekitar 0,2 persen,” ungkap Fransisco.
Untuk mempercepat regenerasi, Dinas Pertanian dan Perkebunan mengubah pola pelatihan dengan sistem jemput bola. Ia berharap petani zilenial yang jumlahnya masih terbatas itu dapat menjadi motor penggerak pertanian di Jawa Tengah.
“Sekarang kami tidak hanya melatih di balai pelatihan, tapi pakai sistem mobile training unit. Kami datangi langsung ke lokasi-lokasi. Mereka sedikit, tapi harus bisa menggerakkan petani yang lain,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





