Lebih jauh, Gus Yasin mengakui kekeringan juga berdampak terhadap stok pangan di Jawa Tengah. Pasalnya, sebagian lahan pertanian di Jawa Tengah masih bergantung pada air hujan.
“Ya pasti ya [terdampak], karena kan mayoritas masih sebagian ya, sebagian itu kan masih tadah hujan, kalau enggak ada hujan mereka kan enggak bisa tanam,” katanya.
Adapun komoditas yang berpotensi terdampak utamanya kacang-kacangan dan tanaman palawija. Petani pada musim kemarau mengandalkan tampungan air yang kini mulai berkurang.
“Kacang-kacangan ya palawija ya karena biasanya kemarau itu di palawija. Mereka mengandalkan tampungan-tampungan air yang sekarang mulai berkurang,” jelasnya.
Sementara untuk petani yang mengalami gagal panen, Gus Yasin menyebut sudah tersedia skema asuransi, termasuk untuk gagal panen akibat serangan hama maupun kejadian bencana.
BMKG Rilis Daftar Wilayah Awas Kekeringan di Jateng
Sebelumnya ԁiberitakan, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah membagi wilayah yang masih terdampak kekeringan ke dalam tiga tingkat peringatan, yakni awas, siaga, dan waspada.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan status peringatan tersebut merupakan hasil pembaruan berdasarkan kondisi iklim pada setiap dasarian. Beberapa daerah mengalami penurunan status ԁibandingkan periode sebelumnya.
“Benar, beberapa wilayah sudah melewati puncak musim kemarau. Saat ini meluruh menuju transisi musim,” ujar Goeroeh dalam keterangan resminya, Selasa, 22 September 2026.
BACA JUGA: Kapan Hujan Mulai Turun di Semarang dan Jawa Tengah? Begini Penjelasan BMKG
Pada dasarian III September 2026, sejumlah wilayah masih berada pada tingkat awas. Daerah yang masuk kategori ini meliputi:





