BLORA, beritajateng.tv – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Blora, Jawa Tengah, selama sekitar tiga bulan membuat warga di sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih.
Saat bantuan air bersih datang, warga langsung menyerbu untuk mendapatkan pasokan air.
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Purwosari. Sejak Juni, warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga harus mencari air dari sumur sawah yang lokasinya cukup jauh dari permukiman.
Sebagian warga lainnya terpaksa membeli air bersih dengan harga sekitar Rp 150 ribu untuk satu tangki berkapasitas 5.000 liter.
Kondisi tersebut membuat bantuan air bersih yang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana kirim langsung warga serbu.
BACA JUGA: Normalisasi Sungai Plumbon Tunggu Pembebasan 320 Bidang Lahan, BBWS Butuh Tambahan Rp132 Miliar
Dalam waktu singkat, air bantuan langsung habis dibagikan kepada masyarakat.
Sutini, salah seorang warga, mengaku bantuan air tersebut sangat membantu di tengah sulitnya mendapatkan air bersih selama musim kemarau.
“Jauh jaraknya kalau cari air, harus ke sumur yang ada di sawah sawah. Dapat bantuan ya seneng,” ungkapnya, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kepala Desa Purwosari Anissa Widhy Rumdani mengatakan dampak kemarau tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga menyebabkan lahan pertanian di desanya mengalami kekeringan.
“Hampir seluruh pertanian di desa kami terdampak kekeringan. Kami berharap bantuan air bersih dari pemerintah melalui BBWS Pamali Juana, Pemkab Blora melalui DPUPR dan BPBD bisa terus berlanjut,” kata Anissa.
Menurutnya, bantuan air bersih sangat warga butuhkan karena sebagian sumber air di wilayahnya mulai mengering.
Sementara itu, Satgas Bencana Kekeringan BBWS Pamali Juana Kholiq Maulana mengatakan pihaknya telah mendistribusikan sekitar 440 ribu liter air bersih ke sejumlah daerah yang mengalami krisis air.





