Kematian Seorang Bocah SD di Blora Janggal Penuh Luka

Ilustrasi kematian anak.

BLORA, 18/9 (Beritajateng.tv) – G seorang bocah yang baru duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD) swasta di Kabupaten Blora, Jawa Tengah di kabarkan telah meninggal dunia akibat jatuh dari kursi didepan pintu kamar mandi di area dapur rumah orang tuanya, pada Sabtu (10/9/2022) malam.

Kematiannya yang mendadak itu menjadi buah bibir warga sekitar, lantaran kematiannya diduga ada kejanggalan karena ditubuhnya penuh luka.

Pantauan dilapangan, kejanggalan yang pertama ketika dilontarkan oleh seorang saksi yang memandikan jenazah sebelum dimakamkan.

“Waktu itu orang tua korban meminta kepada yayasan Budi Dharma untuk merawat kematian anaknya sekitar jam sepuluh malam,” kata Sumadi saksi yang memandikan mayat saat ditemui media tiga hari paska kematian korban, Selasa (13/10/2022).

Menurut Sumadi, ketika sampai dirumah duka mayat korban belum tiba, ia pun menunggu sejenak bersama rombongan. Tak berapa lama terdengar suara sirene ambulan dari rumah sakit umum dr. Soetidjono Blora, yang membawa jenazah korban.

Jenazah korban dibawa oleh orang tuanya sendiri kedalam rumah duka. Kemudian Sumadi mau memandikan jenazah korban karena selama ini dialah yang selalu memandikan mayat saat ada orang meninggal beragama Kristen.

Seperti biasa sebelum dimandikan, mayat di foto untuk di dokumentasikan, namun sempat terjadi keributan lantaran ayah korban yang ternyata ayah tiri melarang untuk mengambil foto ataupun video.

“Gak usah di foto atau di video, biar tak mandikan sendiri saja,” cerita Sumadi menirukan ayah tiri korban.

Sumadi dan rombongan mulai ada kecurigaan dan cekcok sama ayah tirinya “Kamu sudah memanggil Budi Dharma kesini, kalau tidak boleh memandikan sekalian saja pemakamannya kamu yang ngurusin, kami tak pulang. Bapaknya lalu diam,” kata Sumadi.

Setelah ditunggu beberapa saat, Sumadi pun masuk lagi kedalam rumah menanyakan kepada ayah tirinya, apa sudah boleh dimandikan jenazahnya, ayahnya lalu membolehkan.

“Setelah saya buka semua, saya kaget, yang saya lihat ada darah yang keluar dari mulut dan hidungnya. Setelah tak mandikan baru kelihatan dahinya ada benjolan sudah membiru. Saya penasaran jatuh dari kursi kok bisa langsung meninggal, saya raba lagi dibagian kepala gak ada yang luka. Tapi ada rambut yang rontok seperti ditarik jatuh didada, dibagian kanan kiri perut ada luka memar, dan dileher bawah telinga juga ada dua titik kehitaman, ” jelas Sumadi.

“Saya sempat menangis, karena puluhan tahun memandikan jenazah, baru kali ini melihat luka sebanyak itu, dalam hati saya kalau penyebabnya jatuh dari kursi, kok lukanya seperti ini,” imbuhnya.

Luka itu yang melihat bukan hanya Sumadi namun ada tim lain dari yayasan Budi Dharma yang melihatnya. Usai dimandikan jenazah diserahkan kepada pihak keluarga untuk diberi pakaian dan aksesoris lainya dan dimasukan kedalam peti mati.

Penelusuran Beritajateng.Net tak hanya sampai di situ. N saksi yang mengantarkan korban sebelum meninggal mengatakan pukul 21.37 WIB ditelpon ayah tirinya dimintai tolong untuk mengantar kerumah sakit Permata.

“Waktu itu saya habis dari jalan jalan bersama keluarga, ganti baju terus tiduran. Sekitar pukul 21.37 WIB, saya ditelpon ayahnya minta tolong diantar ke rumah sakit karena anak perempuannya jatuh,” kata N, Kamis (15/9/2022) sore.

N kemudian mengeluarkan mobilnya menuju rumah ayah korban yang g jauh dari rumahnya.

“Saya tanya, diantar ke mana? Dia jawab ke Permata saja. Saat dibopong ayahnya saya sempat melihat muka G berdarah, terus saya langsung ke rumah sakit Permata, ” tuturnya.

Sesampai di Permata langsung ditangani di IGD, sedangakan ayahnya lalu mengurus administrasi di bagian pelayanan. Beberapa menit kemudian perawat keluar menanyakan orang tuanya.

“Orang tuanya mana? Saya jawab kenapa? Susternya bilang disini sudah tidak sanggup lagi menagani, lo kenapa saya tanya lagi ke susternya, saturasi oksigenya tinggal 74, ini ada cidera berat di kepala dan harus segera dibawa ke rumah sakit umum, susternya bilang begitu. Saya bilang ke ayahnya, trus mengambil mobil anak itu saya bawa ke RSU, sebelumya saya juga telpon temen saya C, tak suruh nyusul ke RSU, ” jelas N.

Di RSU dr. Soetidjono, G diperiksa di IGD dan dirawat sampai akhirnya pukul 22.00 WIB meninggal dunia.

Penelusuran Beritajateng.Net tak berhenti disitu saja, karena C teman N mengatakan sebelum korban dibawa ke rumah sakit Permata ada saksi lagi yang melihat gerak gerik mencurigakan menjelang bocah malang itu jatuh dan meninggal dunia.

“Ada saksi lagi sebelum G jatuh, ia nongkrong diwarung itu, melihat gelagat ayahnya yang mondar mandir kaya kebingungan,” kata C.

Saksi tersebut pada waktu itu nongkrong di warung angkringan ayahnya sebelum korban meninggal dunia. Saksi itu berinisial H yang memang tiap hari nongkrong diwarung itu setiap pulang kerja.

Ditempat terpisah H memberikan keterangan apa yang ia lihat saat itu, di warung ayahnya sampai pukul 21 lebih.

“Saya memang waktu itu ada warung. Saya sendirian minum, ayahnya lalu pamit mau ngambil cas HP, terus datang lagi dua orang pelanggan salah satunya minta wedang jahe, karena lama g kembali ke warung saya disuruh telepon. Saat mau tak telpon ia sudah datang dan membuatkan jahe lalu pulang lagi kerumahnya, ” kata H kepada media.

Beberapa menit kemudian ayahnya datang lagi bilang kalau warungnya mau ditutup karena anak perempuan nya jatuh dari kursi dan mau dibawa ke rumah sakit.

“Maaf koh warung mau tak tutup, anaku jatuh dari kursi mau tak bawa ke rumah sakit, terus saya bilang ya koh biar tak bantu beresin koh urusin anak e saja. Koh Mu yang disebelahku juga bilang, pakai motorku saja, tapi ayahnya gak mau katane mau naik Grab saja. Saya terus bantu beres beres, terus aku pamit,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kasatreskrim Polres Blora AKP Supriyono mengaku telah menerima informasi kematian korban yang diduga ada kejanggalan tersebut. Pihaknya pun telah menerjunkan tim inavis ke lokasi dan melakukan olah TKP.

“Sebenarnya ini bukan laporan tapi saya dapat informasi adanya kejanggalan itu. Itu kejadian malam minggu tanggal 10 September kemarin. Saya sudah datang ke lokasi bersama tim inavis. Saya juga sudah olah TKP. Saat saya datang ke lokasi memang kondisi sudah di peti. Pihak keluarga juga tidak mau diotopsi,” jelasnya. (Her/El)

Leave a Reply