SEMARANG, beritajateng.tv – Di momen lebaran Syawalan, masyarakat kembali berlebaran dan makan ketupat. Masyarakat pergi ke pasar lagi untuk berbelanja seperti halnya saat berlebaran.
Namun, yang kali ini ialah lebaran Syawalan atau lebaran ketupat. Ini merupakan tradisi yang sudah membudaya sejak lama.
Para pedagang di pasar tradisional Bandarjo dan Babadan pun turut menjual penganan Syawalan. Mereka biasa menjual makanan khas lebaran, seperti ayam, ketupat, lontong, atau lepet (olahan ketan dan kelapa).
Muh. Edi, penjual ketupat, mengatakan bahwa lebaran kemarin dan sekarang jauh berbeda, lantaran yang sekarang lebih ramai.
“Lebaran Syawalan lumayan ramai. Jauh dari penghasilan lebaran sebelumnya,” ujar Edi kepada awak beritajateng.tv di Pasar Bandarjo Ungaran.
Masyarakat pun biasanya menyajikan ketupat dan lepet untuk sajian Syawalan. Lantaran Syawalan telah ada sejak dulu, budaya tersebut terus lestari hingga sekarang.
“Biasanya saat Syawalan, orang pasti mencari ketupat dan lepet, untuk disajiakan di rumahnya,” jelasnya.
Ia pun menambahkan, “Biasanya juga ada lepet, makanan yang biasanya ada di lebaran Syawalan, yang bahan bakunya dari ketan dengan campuran kelapa.”
“Penjualannya pasti meningkat. Per ikat hanya Rp18 ribu, isi 5 buah. Tapi kalo bahan baku naik, kita pasti akan naikkan harganya sedikit sehingga harga (tetap) terjangkau masyarakat,” tuturnya.
Begitu juga dengan Nahrowi, penjual ketupat. Ia mengatakan bahwa ia turut menjual ketupat di pasar untuk menyediakan Syawalan.
“Saya menjual ketupat untuk lebaran Syawalan atau lebaran ketupat,” ujar Nahrowi kepada awak beritajateng.tv di Pasar Babadan Ungaran.
Nahrowi pun menambahkan, “Biasanya orang membuat ketupat untuk sajian makanan campuran, seperti campuran opor, sambel goreng ati ya. Biasanya sajian lebaran, di kampung-kampung atau di rumah-rumah saat berlebaran.” (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





