Namun, kreasi tersebut membutuhkan waktu lebih panjang karena botol harus dikumpulkan, dipotong satu per satu, kemudian dirangkai pada kerangka dan diberi warna.
Selain Emma, warga Puntan lainnya juga membuat kostum dari limbah plastik kemasan deterjen. Ratna Wardani memanfaatkan bungkus deterjen yang terkumpul di rumah menjadi busana untuk upacara.
Keunikan lain terlihat dari jajaran petugas upacara. Sejumlah posisi penting, mulai dari protokol atau pembawa acara, pasukan pengibar bendera hingga pembaca UUD 1945, terpercayakan kepada ibu-ibu dan remaja putri.
Warga juga membawa semangat Bhinneka Tunggal Ika melalui pakaian yang mereka kenakan. Perbedaan latar belakang, profesi dan budaya justru tertampilkan sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan.
Tokoh masyarakat Puntan, Waimin, mengatakan rangkaian perayaan HUT RI tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat persatuan warga.
“Ini rangkaian acara pitulasan di Puntan. Mulai dari lomba-lomba, kemudian juga bapak-bapak dan ibu-ibu, anak-anak juga yang luar biasa dengan panitia yang luar biasa dan ini puncaknya puncak upacaranya,” kata Waimin yang juga menjadi Pembina dalam upacara tersebut.
Menurutnya, tema besar yang diangkat adalah Bhinneka Tunggal Ika. Warga Puntan diharapkan semakin kokoh melalui persatuan dan kerukunan.
“Bahwa kita ingin Puntan semakin kokoh karena persatuan. Puntan semakin baik karena persatuan kita, guyub rukun kita,” ujarnya.
Kostum Jadi Pesan untuk Mencintai Budaya
Waimin menilai penggunaan beragam pakaian dalam upacara juga memiliki pesan penting. Warga tidak hanya menunjukkan kreativitas, tetapi sekaligus diajak mencintai budaya bangsa.
“Maknanya kita ingin agar warga Puntan satu mencintai budaya bangsa. Yang kedua agar kemudian kita dengan bermacam-macam tidak saling bermusuhan tapi bergandengan tangan untuk bangsa kita,” tuturnya.
Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup hanya terayakan melalui seremoni. Semangat kemerdekaan perlu terwujudkan melalui kehidupan sosial yang guyub, gotong royong dan saling menghargai.





