Feature

Kisah Generasi Ketiga Ice Cream Karimata Bertahan Ditengah Banyaknya Saingan

×

Kisah Generasi Ketiga Ice Cream Karimata Bertahan Ditengah Banyaknya Saingan

Sebarkan artikel ini
es krim karimata
Reinaldo, generasi ketiga pengelola kedai Ice Cream Karimata. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Banyak usaha yang terpaksa berhenti sejenak akibat Pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu. Salah satunya adalah Es Krim Karimata yang terletak di Jalan Karimata, Nomor 44, Karangtempel, Kota Semarang.

Didirikan oleh Dinoto Sudarso dan istrinya pada tahun 1981 silam, kini giliran generasi ketiga yakni Reinaldo yang bertugas melanjutkan estafet usaha Ice Cream Karimata.

Meski tidak memiliki basic di dunia kuliner, Reinaldo mengaku tak begitu kesulitan saat melanjutkan usaha sang kakek. Terutama karena sejak kecil ia sudah akrab dengan es krim buatan kakek dan neneknya itu.

“Kalau kesini makannya es krim, jadi dari kecil udah tahu es krim kakek nenek. Dulu juga sering ngintip-ngintip pas oma buat es krim,” jelasnya kepada beritajateng.tv, Rabu 14 Juni 2023.

BACA JUGA: Mencicipi Segarnya Tiga Rasa Ice Cream Karimata Semarang

Usia Dinoto yang semakin tua dan Pandemi Covid-19 membuat Ice Cream Karimata vakum selama tiga tahun. Bahkan, sempat terlintas rencana untuk menutup kedai tersebut secara permanen.

Namun, pria yang pernah bersekolah di Amerika Serikat ini lantas menawarkan diri untuk mencoba membangkitkan kembali popularitas es krim legendaris tersebut.

“Berhenti saat covid selama tiga tahun, kakek nenek juga semakin tua, akhirnya saya menawarkan diri mau nerusin. Dulu niatnya mau coba dua bulan, ternyata seneng dan asik juga, akhirnya keterusan,” lanjutnya.

Akhirnya, Reinaldo mendapat kepercayaan untuk memegang kendali Ice Cream Karimata sejak Desember 2022. Ia bahkan terjun langsung membuat es krim setiap harinya.

Butuh dua bulan belajar bikin es krim Karimata

Namun, tak mudah baginya untuk bisa membuat cita rasa es krim sesuai standar tinggi kakek dan neneknya. Setidaknya butuh waktu dua bulan untuk Reinaldo belajar menciptakan es krim dengan kualitas terbaik.

“Butuh waktu dua bulan dan itu tiap hari bikin. Jadi tiap selesai pasti tes taste ke oma dulu, kurang apanya, ada yang ditambahin atau dikurangin nggak. Karena kurang sesuai sedikit aja, mereka tahu. Lidah mereka sensitif sekali,” ungkap Reinaldo.

Seiring berjalannya waktu, Reinaldo bisa melewati tantangan tersebut. Kini, ia yang bertugas membuat es krim setiap harinya.

“Es krim itu susah bikinnya karena dari panas ke dingin itu prosesnya jauh dan pasti ada perubahan rasa, ada rasa yang hilang. Misal kita coba saat panas, pas dingin bisa berubah,” lanjutnya.

Setengah tahun melanjutkan perjalanan Ice Cream Karimata, Reinaldo mengaku tak begitu khawatir terhadap persaingan usaha es krim di Semarang. Menurutnya, es krim adalah barang yang umum sehingga satu-satunya cara untuk bisa bertahan adalah dengan menjaga kualitas rasa.

“Makanan itu ada khasnya yang susah banget ditiru, apalagi ketika lidah orang sensitif, jadi tidak begitu khawatir. Asal kita bisa jaga produk sendiri,” jelas Reinaldo.

Mengaku serius menjalani usaha es krim, Reinaldo bahkan memiliki cita-cita untuk membuka beberapa cabang, baik di Kota Semarang, maupun di luar kota. Terlebih, sang ibu dan adik juga memiliki kedai es krim masing-masing di Bandung dan Jakarta.

“Saya pengennya sih punya cabang banyak, apalagi kalau bisa masuk di rumah makan sebagai hidangan dessert. Tapi untuk ke sana sepertinya memang masih jauh karena sekarang aja masih keteteran bikin sendiri,” imbuhnya. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp