Gaya Hidup

Kisah Hiroaki Kato, Penyanyi Jepang yang Jatuh Cinta pada Sastra Indonesia karena Novel Bumi Manusia

×

Kisah Hiroaki Kato, Penyanyi Jepang yang Jatuh Cinta pada Sastra Indonesia karena Novel Bumi Manusia

Sebarkan artikel ini
Hiroaki Kato
Penyanyi asal Jepang Hiroaki Kato saat tampil di Infinifest DX 2026 di Tentrem Mall Kota Semarang, Sabtu, 4 Juli 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

“Saya suka sekali lagu-lagu Letto. Saya kepikiran, bagaimana caranya orang Jepang juga bisa menikmati lagu Indonesia. Biasanya mereka ingin tahu arti liriknya. Akhirnya saya terjemahkan ke bahasa Jepang dan saya nyanyikan sendiri,” ungkapnya.

Tak disangka, respons yang diterima sangat positif. Bukan hanya pendengar Jepang yang menyukai lagu-lagu Indonesia versi bahasa Jepang, tetapi juga masyarakat Indonesia.

“Lama-lama banyak yang suka. Teman-teman Indonesia juga suka versi Jepangnya. Sampai sekarang menerjemahkan lagu Indonesia menjadi salah satu senjata saya untuk tetap hidup di dunia entertainment. Saya sangat bersyukur,” ujarnya.

Puluhan Lagu Indonesia Berbahasa Jepang

Setelah Ruang Rindu, Hiroaki terus menerjemahkan sejumlah lagu populer Indonesia. Di antaranya lagu-lagu milik Tulus berjudul “Sepatu”, “Dekat di Hati” karya RAN, hingga lagu-lagu lain yang kerap ia bawakan dalam berbagai penampilan seperti “Laskar Pelangi” dari Nidji dan “Mungkin Nanti” dari Noah.

Menurutnya, menerjemahkan lagu bukan sekadar mengubah bahasa, tetapi juga menyampaikan makna agar bisa dipahami masyarakat Jepang.

Selepas menjalani program pertukaran pelajar di UGM, Hiroaki kembali ke Jepang untuk menyelesaikan pendidikan S-1, kemudian melanjutkan S-2 dengan konsentrasi Linguistik Bahasa Indonesia.

Perjalanan hidupnya pun tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah bekerja sebagai kuli bangunan sebelum akhirnya menjadi dosen bahasa Indonesia di Jepang.

BACA JUGA: Kuliner Jepang di Semarang Makin Merakyat, Ramen Eiko Tawarkan Konsep Street Food Yatai

Kini, pengalaman akademik dan kecintaannya pada Indonesia menjadi bekal untuk terus berkarya di industri hiburan. Sebagai pengajar bahasa sekaligus penutur asli Jepang, Hiroaki menilai bahasa Jepang jauh lebih rumit dibanding bahasa Indonesia.

Menurutnya, bahasa Indonesia relatif mudah dipelajari karena menggunakan alfabet Latin, sedangkan bahasa Jepang memiliki tiga sistem penulisan, yakni Hiragana, Katakana, dan Kanji.