Menanggapi anggapan bahwa service charge Nataru untuk membayar lembur karyawan, Mufid menilai alasan tersebut tidak tepat jika membebankannya secara terpisah kepada konsumen.
“Komponen harga sajian di restoran itu kan sudah terbentuk dari biaya operasional dan keuntungan. Biaya operasional itu termasuk bahan dan tenaga kerja,” jelasnya.
Ia menegaskan, jika terdapat biaya lembur, semestinya terhitung sebagai bagian dari biaya operasional, bukan sebagai charge (tarikan) tambahan.
“Kalau ada lembur, itu hitung saja sebagai biaya operasional. Totalnya hitung, lalu tentukan harga jualnya. Itu enggak masalah,” kata Mufid.
Menurutnya, penggunaan istilah service charge justru menimbulkan kesan tidak transparan dan menyulitkan konsumen memastikan ke mana pengalokasian dana tersebut.
“Pakai istilah service charge itu kesannya bias. Kita juga enggak bisa memastikan itu benar-benar tersalurkan ke karyawan atau tidak,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





