KPID Jateng: Bad News Masih jadi Andalan Infotainment

Ilustrasi. (KPID Jateng)

SEMARANG, 11/8 (beritajateng.tv) – Informasi negatif masih menjadi konten dominan dalam program-program infotainment di lembaga penyiaran.

Hal itu ditunjukkan dalam hasil pemantauan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng terhadap 18 program infotainment yang disiarkan seluruh stasiun televisi selama Juli 2022.

Konten paling dominan adalah berita tentang permasalahan rumah tangga selebriti, sebanyak 23 persen dari keseluruhan konten program. Materi yang tengah intens diberitakan misalnya rumah tangga komedian Sule dan penyanyi Dewi Persik.

Selain itu infotainment juga gemar meliput aktivitas selebriti di balik layar, seperti membeli hewan kurban, membagi momen kemesraan dengan pasangan, atau pun sekedar bercengkerama dengan kolega, dengan porsi sebesar 19 persen.

Sementara pemberitaan tentang karya-karya di bidang entertainment menempati posisi ketiga dengan porsi 14 persen. Konten lainnya yang diberitakan terkait musibah yang dialami selebriti (13 persen), acara seremonial keluarga (10 persen), gaya hidup (5 persen), kasus hukum (5 persen), dan berita-berita lainnya (11 persen) yang lebih banyak diisi pengalaman mistis selebriti, berita viral, dan sebagainya.

Menurut Koordinator Bidang Isi Siaran KPID Jateng, Ari Yusmindarsih, tayangan infotainment masih dibangun berdasarkan pola badnews is goodnews.

“Fokusnya bukan ke karir dan prestasi, tapi lebih pada kehidupan pribadi,” jelasnya, Kamis (11/8/2022).

Ari menambahkan, mindset pembuatan program infotainment harus diubah, bukan berita selebriti, melainkan berita perkembangan dunia entertainment.

“Kalau polanya fokus ke pribadi artis, karya-karya kreatif terbaik justru kurang mendapat ekspose yang layak”  tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Infrastruktur Penyiaran dan Perizinan KPID Jateng, Anas Syahirul Alim menegaskan pentingnya asas-asas jurnalistik dalam program infotainment.

Anas menyebut bahwa sebagai karya jurnalistik terdapat asas-asas yang harus dipenuhi, khususnya asas moralitas yang di antaranya berisi perlindungan terhadap privasi.

“Unsur privasi bisa jadi pemberitaan sepanjang memiliki kemanfaatan untuk publik,” papar Anas. (*)

editor: ricky fitriyanto

Leave a Reply