“Hal ini penting untuk kami sampaikan karena koperasi bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi kalangan milenial, Gen-Z, maupun generasi Alfa yang sekarang masih duduk di bangku sekolah,” jelasnya.
Anak Muda Dinilai Mulai Lupa Koperasi
Lebih jauh, Ferry mengakui pemahaman generasi muda terhadap koperasi saat ini mulai berkurang. Sebab itu, pendidikan koperasi di sekolah ԁiharapkan dapat mengembalikan pemahaman tersebut sejak ԁini.
“Output-nya adalah mereka bisa mengerti lagi tentang esensi koperasi. Sebab, saat ini banyak di antara anak-anak muda kita, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi, yang sudah lupa tentang koperasi,” ujarnya.
Padahal, menurut Ferry, koperasi merupakan badan usaha yang memiliki akar kuat dalam sejarah Indonesia dan sesuai dengan karakter masyarakat yang menjunjung tinggi gotong royong.
“Padahal, koperasi itu adalah badan usaha yang ԁiamanatkan oleh sejarah dan oleh para pendiri Republik Indonesia. Koperasi adalah badan usaha yang paling memungkinkan untuk kita terapkan. Sebab, sangat sesuai dengan karakter masyarakat kita yang menjunjung tinggi gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan,” katanya.
Ia berharap setelah lulus dan memasuki dunia kerja, para pelajar telah memahami ekosistem koperasi yang saat ini sedang pemerintah kembangkan.
“Jadi output utamanya adalah mereka mengerti dan paham terlebih dahulu tentang apa itu koperasi. Nantinya, setelah mereka masuk ke dunia kerja, insyaallah ekosistem koperasi ini sudah tersedia dan kuat di semua sektor, baik di tingkat desa maupun kelurahan,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





