Gaya Hidup

Lebaran Ajang Silaturahmi atau “Interogasi” Kapan Nikah? Psikolog Ungkap Dampaknya bagi Anak Muda

×

Lebaran Ajang Silaturahmi atau “Interogasi” Kapan Nikah? Psikolog Ungkap Dampaknya bagi Anak Muda

Sebarkan artikel ini
Pati Ponpes
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. saat dijumpai di kediamannya, Jumat, 20 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Lebaran yang seharusnya menjadi momen hangat penuh kebersamaan, bagi sebagian orang justru terasa seperti “ujian tahunan”. Bukan soal hidangan atau tradisi, melainkan pertanyaan klasik yang nyaris tak pernah absen seperti, “Kapan nikah?”

Fenomena ini bukan sekadar basa-basi. Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si menilai, pertanyaan seputar pernikahan saat momen kumpul keluarga bisa memicu tekanan psikologis, terutama bagi generasi muda yang kini memiliki pandangan berbeda tentang hidup dan pencapaian.

“Di budaya kita, menikah itu sering dianggap prestasi. Seolah-olah kalau belum menikah berarti belum ‘laku’. Padahal anak muda sekarang tidak selalu memandang seperti itu,” ujarnya saat beritajateng.tv jumpai pada Jumat, 20 Maret 2026.

Menurut Probowatie, cara pandang generasi sebelumnya yang menganggap pernikahan sebagai tolok ukur keberhasilan mulai bergeser. Saat ini, banyak anak muda lebih memprioritaskan pendidikan, karier, dan kesiapan mental sebelum menikah.

BACA JUGA: Jenang, Tradisi Lebaran dan Filosofi Warga Desa Boto Kabupaten Semarang

Ia bahkan mengutip hasil penelitian terhadap 750 responden yang menunjukkan bahwa kebahagiaan dalam pernikahan tidak selalu sejalan dengan usia menikah yang lebih muda.

“Mereka yang menikah di bawah usia 30 tahun, ketika ditanya soal kebahagiaan, banyak yang menjawab tidak. Tapi yang menikah di usia 34 atau 35 tahun justru lebih menikmati, karena sudah merasa ‘settle’ dan memahami konsep take and give dalam pernikahan,” jelasnya.

Dari Basa-basi Jadi Sumber Stres

Meski sering dianggap candaan ringan, pertanyaan seperti “kapan nikah” atau “sudah punya anak belum” bisa berdampak serius bagi sebagian orang.

Terlebih bagi pasangan yang sedang berjuang memiliki anak. Probowatie yang juga menangani program bayi tabung mengaku sering menemui pasien yang merasa tertekan menjelang Lebaran.

“Mereka stres karena takut ditanya, ‘kok belum hamil?’ Padahal itu urusan pribadi mereka berdua,” katanya.

Tekanan ini bisa memunculkan berbagai reaksi, mulai dari rasa tidak nyaman hingga menghindari interaksi sosial.

“Ada yang memilih diam, masuk kamar, bahkan sengaja tidak pulang saat Lebaran untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan itu,” tambahnya.

Generasi Muda Mulai Berani Menjawab

Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini cenderung lebih terbuka dan berani menetapkan batasan.

Sebagian memilih menjawab santai, bahkan tegas, bahwa pernikahan adalah pilihan pribadi.

“Mereka bisa bilang, ‘enggak apa-apa, saya masih ingin fokus karier dulu’. Bagi mereka, menikah itu sangat personal dan tidak ingin diusik,” ujar Probowatie.

Cara Bijak Menyikapi Pertanyaan Sensitif

Untuk menghindari konflik saat Lebaran, Probowatie menyarankan respons yang tetap sopan namun tidak membuka ruang tekanan lebih lanjut.

“Cukup jawab, ‘terima kasih, mohon doanya saja’. Itu sudah cukup. Tetap santun tanpa harus menjelaskan panjang lebar,” sarannya.

BACA JUGA: Hemat Bensin, Pemerintah Pertimbangkan WFH Sehari dalam Seminggu Usai Lebaran 2026

Ia juga mengingatkan pentingnya empati dari pihak keluarga agar tidak menjadikan momen Lebaran sebagai ajang tekanan sosial.

“Silaturahmi itu seharusnya membawa kenyamanan, bukan malah membuat orang merasa terpojok,” tegasnya.

Probiwatue juga berpesan, di tengah perubahan zaman, Lebaran bisa menjadi momentum untuk membangun komunikasi yang lebih sehat dalam keluarga. Mengganti pertanyaan sensitif dengan perhatian yang lebih tulus bisa membuat suasana menjadi lebih hangat dan inklusif. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp