Pelaksanaan perdana ini sekaligus menjadi pembuka untuk agenda berkelanjutan ke depannya. Selama ini, tutur dia, hasil usaha warga binaan dikumpulkan secara berkelompok dan digunakan sebagai bahan latihan pengelolaan keuangan sederhana.
“Dari hasil penjualan, mereka bisa belajar tentang modal, keuntungan, dan perhitungan usaha. Bahkan ada yang mulai bisa memutar modal sendiri,” ujarnya.
BACA JUGA: Badan Penuh Tato, Agus Sutikno “Pendeta Jalanan” Tulus Abdikan Diri Untuk Sesama
Tampung 110 warga binaan
Sebagai informasi, Panti PGOT Mardi Utomo sendiri menampung hingga 110 warga binaan dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan luar provinsi. Usia PPKS yang ditampung berkisar antara bayi hingga 59 tahun.
“Anak-anak biasanya ikut orang tuanya yang terjaring razia. Mereka semua kami bina agar kelak bisa kembali ke masyarakat dalam kondisi lebih baik,” pungkas Elliya.
Siti Masitoh (36), salah satu warga binaan dari Purwokerto, turut meramaikan pasar dengan menjual nasi liwet.
“Awalnya sempat takut, tapi alhamdulillah senang bisa ikut. Saya jual nasi liwet isi telur dan teri, harganya Rp8 ribu per bungkus, kalau beli dua Rp15 ribu,” ujar Siti.
Ia berharap pasar tersebut dapat berlangsung rutin agar warga binaan semakin semangat dalam berwirausaha. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





