4. Sholat malam merupakan ibadah orang shalih. Berbeda dengan ibadah lain bagi orang-orang ada umumnya. Misalnya sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang baik, tapi biasanya masyarakat awam juga gemar bersedekah. Semuanya bisa menjalankan sedekah. Begitu pula tolong-menolong dan ibadah-ibadah lain, siapa pun bisa melakukannya. Berbeda dari sholat malam, hanya orang yang benar-benar shalih akan melakukannya. Oleh karena itu bagian dari ibadah yang tidak populer.
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ
“Hendaknya kalian melakukan sholat malam karena kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian. Sesungguhnya ibadah ini mendekatkan kepada Allah, serta menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari badan.” (Sunan At-Tirmidzi: 3549)
5. Allah membanggakan hamba-Nya yang menjalankan sholat tahajud. Dalam sebuah atsar disebutkan:
إن الله يعجب من العبد إذا قام من على فراشه وبين أهله إلى صلاته ويباهى به ملائكته ويقبل عليه بوجهه الكريم.
Artinya: “Sesungguhnya Allah membanggakan hambanya kepada para malaikat ketika hamba tersebut berdiri meninggalkan tempat tidurnya dan keluarganya menuju sholat dan Allah menerima hamba tersebut.” (Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Risalatul Mu’awanah wal-Mudzaharah wal-Muazarah, [Darul Hawi: 1994], hlm. 40-41) (*).





