Selain cabai gendot, mereka juga menggunakan kerang hijau dari warga Tambakrejo dan beras dari warga Sumberejo yang saat ini menolak aktivitas pertambangan di wilayahnya.
BACA JUGA: Bantah Dana MBG Mandek, BGN Jateng: Bukan Tak Cair, Kepala SPPG Kadang Telat Lapor
“Ada beberapa bahan makanan seperti kerang hijau dari warga Tambakrejo, kemudian beras dari teman-teman Sumberejo yang saat ini juga menolak tambang,” kata Tuti.
Menurutnya, pemilihan bahan pangan tersebut bukan tanpa alasan. Bara Puan ingin memperkenalkan berbagai persoalan yang tengah 𝖽ihadapi masyarakat desa kepada warga perkotaan melalui medium makanan.
Tuti menilai isu-isu yang berkembang di wilayah pedesaan kerap luput dari perhatian masyarakat kota. Karena itu, mereka mencoba membawa produk-produk hasil perjuangan warga desa ke ruang publik perkotaan.
“Jadi yang kami masak adalah bahan makanan yang berasal dari warga itu sendiri sebagai salah satu dukungan bahwasanya kami mendukung produk lokal, produk wilayah yang saat ini jarang banget kita obrolkan, jarang banget kita 𝖽iskusikan di wilayah perkotaan,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat kota dapat mengetahui berbagai persoalan yang tengah 𝖽ihadapi warga desa melalui aksi tersebut. “Jadi kami mencoba untuk menghubungkan bahwasanya di wilayah pedesaan itu bisa kita bawa ke kota,” imbuhnya.
Siapkan Hingga 100 Porsi Makanan Gratis untuk Warga
Usai memasak, Bara Puan membagikan hasil olahan makanan kepada masyarakat umum yang melintas di sekitar lokasi aksi.
Tuti menyebut pihaknya menyiapkan sekitar 80 hingga 100 porsi makanan untuk 𝖽ibagikan secara gratis sebagai bagian dari aksi solidaritas tersebut.
“Untuk makanannya sendiri kita akan membagikan ke masyarakat umum. Itu menjadi salah satu core kami. Kita membuat dapur kemudian kita akan membagikannya ke masyarakat umum,” tuturnya.
Ia mengaku aksi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Bahkan sejumlah warga sempat menawarkan bantuan dan donasi untuk mendukung kegiatan serupa pada kesempatan berikutnya.





