Pendidikan

Melek Teknologi, Santri Ponpes Raudlotul Qur’an Kauman Semarang Dakwah dan Affiliate Lewat Live TikTok

×

Melek Teknologi, Santri Ponpes Raudlotul Qur’an Kauman Semarang Dakwah dan Affiliate Lewat Live TikTok

Sebarkan artikel ini
ponpes jualan tiktok
Para santri Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman Semarang saat live TikTok berjualan produk sarung. Sabtu, 28 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

“Sangat bermanfaat. Soalnya kita belum tahu ke depan seperti apa, jadi ini jadi bekal,” ungkapnya.

Dakwah, Tadarus, dan Affiliate Jalan Bersama

Pengasuh sekaligus penerus Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman, KH Khammad Ma’sum, mengungkapkan ide memanfaatkan TikTok sebenarnya sudah lama muncul.

“Saya ingin memanfaatkan TikTok untuk kepentingan dakwah, promosi, dan bersosialisasi dengan masyarakat,” jelasnya.

Inspirasi semakin kuat ketika melihat anaknya sukses menjalankan affiliate produk abaya dan gamis Timur Tengah melalui TikTok. Dari situlah ia mantap membawa 10 santri belajar langsung ke Masjid Affiliate Al-Kahfi di Bandung.

“Baru dua minggu mulai, alhamdulillah sudah laku. Itu tidak mudah. Live saja ada banyak syaratnya,” tegasnya.

Menurut KH Khammad Ma’sum, program ini bukan semata-mata untuk mencari uang, tetapi sebagai bekal santri menghadapi dunia digital.
Santri tetap menjalani jadwal ketat, mulai pukul 05.30 mengaji Al-Qur’an, setoran hafalan, halaqah, ngaji kitab pagi hingga malam, termasuk tadarus selama Ramadan. Waktu live dipilih pada jam kosong.

“Enggak mengganggu ngaji. Yang live adalah santri yang sudah lama dan tahu ritmenya,” jelasnya.

Seluruh fasilitas, mulai dari HP hingga perlengkapan live streaming, disediakan pesantren. Akun juga atas nama pesantren, bukan pribadi.

“Saya tidak bolehkan santri pakai akun sendiri untuk jualan. Ini untuk bekal nanti setelah lulus, bukan untuk sekarang ngaji sambil cari uang. Uangnya juga dikelola pesantren,” tegasnya.

Produk yang dijual dipilih secara selektif, seperti sarung, gamis, koko, dan perlengkapan muslim lain yang sudah masuk “keranjang kuning” dari perusahaan terpercaya.

Pesantren Adaptif di Era Digital

KH Khammad Ma’sum menilai media sosial adalah “dunia baru” yang harus dikenalkan kepada santri, selain keterampilan lain seperti kursus roti, komputer, make-up, hingga mengemudi yang sebelumnya sudah ada di pesantren.

“Kalau jualan roti, harus mikir modal, laku atau tidak. Tapi lewat media sosial, santri bisa belajar tanpa harus punya barang dan gudang sendiri,” ujarnya.