Pendidikan

Melek Teknologi, Santri Ponpes Raudlotul Qur’an Kauman Semarang Dakwah dan Affiliate Lewat Live TikTok

×

Melek Teknologi, Santri Ponpes Raudlotul Qur’an Kauman Semarang Dakwah dan Affiliate Lewat Live TikTok

Sebarkan artikel ini
ponpes jualan tiktok
Para santri Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman Semarang saat live TikTok berjualan produk sarung. Sabtu, 28 Februari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Transformasi digital kini merambah dunia pesantren. Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman Semarang menghadirkan gebrakan baru dengan mengajak para santri live TikTok untuk berdakwah sekaligus belajar menjadi afiliator. Program ini menjadi bukti bahwa santri tak hanya fokus mengaji, tetapi juga melek teknologi dan media sosial secara positif.

Salah satu santri yang terlibat adalah Laili Zayyinatul Huda (22). Santri asal Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman Semarang Tengah ini mengaku baru sekitar dua minggu terjun sebagai talent live TikTok.

Laili menjelaskan, sebelum terjun live, ia bersama santri lain mengikuti pelatihan di Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut, Kabupaten Bandung, selama tiga hari.

“Kemarin kita belajar dari Bandung Masjid Affiliate. Kita ikut pelajaran itu tiga hari. Proses pembelajarannya mulai dari personal branding, membangun akun, setelah bisa daftar affiliate langsung terjun live,” jelasnya saat beritajateng.tv temui pada Sabtu, 28 Februari 2026.

BACA JUGA: Santri Ponpes Al Khoziny Mulai Kembali ke Pondok Usai Musala Ambruk

Untuk kemampuan public speaking, Laili mengaku belajar secara otodidak dengan melihat siaran live orang lain, lalu membiasakan diri berbicara di depan kamera.

“Awalnya lihat-lihat live dulu, terus terbiasa, lalu langsung terjun,” katanya.

Jual Sarung dan Koko, Sempat 30 Penjualan Sehari

Produk yang dijual para santri beragam, mulai dari sarung, baju koko, hingga sarung anak. Beberapa produk merupakan sampel dari program Masjid Affiliate Al-Kahfi Bunut, Kabupaten Bandung.

“Pertama jual sarung. Kita dapat bantuan sampel, ada baju koko sama sarung anak,” ujar Laili.

Meski baru berjalan dua minggu, hasilnya cukup menggembirakan.

“Penjualan masih naik turun, tapi alhamdulillah pernah paling banyak 30 penjualan dalam satu hari,” ungkapnya.

Live dilakukan dua sesi, yakni pukul 11.00–12.00 WIB dan malam hari setelah tarawih pukul 20.30–23.30 WIB. Awalnya hanya dua talent, kini berkembang menjadi sekitar enam santri yang bergantian live.

Sebagai santri, Laili merasa kegiatan ini sangat bermanfaat.

“Sangat bermanfaat. Soalnya kita belum tahu ke depan seperti apa, jadi ini jadi bekal,” ungkapnya.

Dakwah, Tadarus, dan Affiliate Jalan Bersama

Pengasuh sekaligus penerus Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman, KH Khammad Ma’sum, mengungkapkan ide memanfaatkan TikTok sebenarnya sudah lama muncul.

“Saya ingin memanfaatkan TikTok untuk kepentingan dakwah, promosi, dan bersosialisasi dengan masyarakat,” jelasnya.

Inspirasi semakin kuat ketika melihat anaknya sukses menjalankan affiliate produk abaya dan gamis Timur Tengah melalui TikTok. Dari situlah ia mantap membawa 10 santri belajar langsung ke Masjid Affiliate Al-Kahfi di Bandung.

“Baru dua minggu mulai, alhamdulillah sudah laku. Itu tidak mudah. Live saja ada banyak syaratnya,” tegasnya.

Menurut KH Khammad Ma’sum, program ini bukan semata-mata untuk mencari uang, tetapi sebagai bekal santri menghadapi dunia digital.
Santri tetap menjalani jadwal ketat, mulai pukul 05.30 mengaji Al-Qur’an, setoran hafalan, halaqah, ngaji kitab pagi hingga malam, termasuk tadarus selama Ramadan. Waktu live dipilih pada jam kosong.

“Enggak mengganggu ngaji. Yang live adalah santri yang sudah lama dan tahu ritmenya,” jelasnya.

Seluruh fasilitas, mulai dari HP hingga perlengkapan live streaming, disediakan pesantren. Akun juga atas nama pesantren, bukan pribadi.

“Saya tidak bolehkan santri pakai akun sendiri untuk jualan. Ini untuk bekal nanti setelah lulus, bukan untuk sekarang ngaji sambil cari uang. Uangnya juga dikelola pesantren,” tegasnya.

Produk yang dijual dipilih secara selektif, seperti sarung, gamis, koko, dan perlengkapan muslim lain yang sudah masuk “keranjang kuning” dari perusahaan terpercaya.

Pesantren Adaptif di Era Digital

KH Khammad Ma’sum menilai media sosial adalah “dunia baru” yang harus dikenalkan kepada santri, selain keterampilan lain seperti kursus roti, komputer, make-up, hingga mengemudi yang sebelumnya sudah ada di pesantren.

“Kalau jualan roti, harus mikir modal, laku atau tidak. Tapi lewat media sosial, santri bisa belajar tanpa harus punya barang dan gudang sendiri,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Terbaru Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: 52 Santri Tewas, Evakuasi Masih Berlanjut

Ia juga menegaskan bahwa sistem TikTok lebih transparan dibandingkan model investasi atau MLM yang dulu marak.

“Semua data ada, penjualan terlihat, uang masuk jelas. Ini berbeda dengan investasi bodong zaman dulu,” katanya.

Melalui program santri live TikTok ini, Pondok Pesantren Raudlotul Qur’an Kauman Semarang meperlihatkan bahwa pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitasnya sebagai pusat pendidikan Al-Qur’an. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp