Karena itu, ia mendorong pengembangan dan kaderisasi hakim sekaligus penyusunan standar penilaian yang dapat diterapkan secara lebih luas. Gagasan tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi Indonesia untuk ikut membangun standar penilaian MTQ di tingkat internasional.
Selain kemampuan teknis, Nasaruddin menekankan pentingnya integritas dan kedisiplinan para hakim. Mereka harus menghindari segala tindakan yang dapat menimbulkan kecurigaan selama proses penilaian berlangsung.
Dewan Pengawas juga harus aktif memastikan proses penilaian berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan berjalan dengan melihat langsung kondisi di setiap lokasi lomba dan mengidentifikasi berbagai hal yang berpotensi mengganggu kualitas penilaian.
Di sisi lain, Nasaruddin menyoroti besarnya pengorbanan para Dewan Hakim yang bertugas dalam MTQ Nasional. Mereka berasal dari kalangan ahli, rektor dan wakil rektor, pendakwah, pelatih, hingga dosen senior yang harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga selama menjalankan tugas.
Karena itu, ia meminta penghargaan terhadap para Dewan Hakim tidak berkurang. Bahkan, Nasaruddin secara khusus meminta Gubernur Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada mereka sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian selama MTQ Nasional.
“Saya menghimbau kepada Pak Gubernur, mari kita berikan semacam penghargaan khusus para dewan hakim,” jelasnya.
Pengukuhan Dewan Pengawas dan Dewan Hakim langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar. M Darwis Hude memimpin sebagai dewan pengawas, Syibli Syarjaya sebagai ketua, dengan Ahmad Daroji sebagai wakil ketua.(*)
Editor: Diaz A Abidin





